Sunday, July 29, 2007

Tuesday, July 24, 2007

Persiapan pulang

Dear Ibu dan Lita di tanah air,
Limabelas hari lagi ayah pulang ke tanah air. Hampir semuanya sudah disiapkan, kecuali bersih-bersih rumah sebelum ditinggalkan. Saat ini ayah lagi mengejar deadline laporan supaya ada yang ditinggalkan sebelum pulang. Clive sudah nanyakan beberapa kali he he he Ayah memang cukup asik dengan hal-hal lain selama ini. Tapi jangan khawatir, masih seputar menulis dan publikasi. Selama di Australia, Ayah sudah punya lebih dari 10 publikasi lo he he

Oh ya, ayah akan ke Bali tanggal 8 Agustus, kita ketemu di Bali ya. Tanggal 12 ke Jakarta dan 14 ke KL untuk konferensi. Tanggal 17 pulang ke Jkt, merayakan kemerdekaan di Air Asia he he. Setelah itu ayah akan ada di Bakosurtanal selama seminggu dan selanjutnya main ke UGM selama seminggu juga. Kalau tidak ada halangan ayah balik ke Aussie tanggal 14 September, 2 hari setelah Lita ulang tahun. Tapi ayah gak janji karena nampaknya akan ada kunjungan dari UN ke Australia sehingga ayah harus ada di tempat. Kita lihat saja nanti.

Oh ya, akhirnya perjalanan ayah ini dibiayai penuh oleh ANCORS, tiket pesawat dan biaya konferensi sudah dikasih kok.. senangnya bisa ketemu anak istri gratis he he he.

Berita bagus lainnya, rumahnya ada yang take over jadi urusannya mudah. Internet, listrik dan telepon juga di take over sekalian jadi ayah gak ada beban apa-apa dan bond bisa kembali tanpa hambatan. Syukurlah banyak diberi kemudahan. Makasih ya doanya.

Ok segitu dulu update saat ini, tetap semangat ya :)
I love you.
Ayah

Sunday, July 22, 2007

Senyum mereka semangatku


Ibu dengan berat hati harus meninggalkan Lita selama 5 hari karena harus bertugas ke Gorontalo... Setiap hari ibu merindukan kenakalannya, manjanya, senyumnya... Klo bisa dibilang 5 hari ini rasanya berjalan sangat lambat.
Ketika ibu sampai depan rumah, anak2 segera berhamburan menyambut kedatangan ibu. Lita sampai lari keluar rumah memanggil ibu.
Langsung ibu keluarkan oleh2 yg ibu beli di pesawat Sriwijaya Air. Untuk Nanda, sebuah pesawat rakitan. Untuk gita dan Lita sepasang glitter. Gembiranya mereka, rindu ibu pun
terobati melihat mereka tersenyum. Tidur siang
ketiganya minta tidur ama ibu... yang pada akhirnya Gita dan Lita tidur di kiri kanan ibu.... saat2 ini yg ibu rindukan.

Lita ternyata sudah mulai mengerti posisi ayah dan ibu. Waktu ditanya ibu kemana kemaren dek? " Keja ke Orontalo", ayah kemana dek? "Keja uga" Untuk apa kerja? "Beli cucu buat dek Ita".... Jawaban polos Lita yang buat ibu bahagia.

I love U honey,

Ibu

Thursday, July 12, 2007

My place in Wollongong at Wikimapia

Notes: Please click arrows to slide and [-] or [+] to zoom out and in

Wednesday, July 11, 2007

ULANG TAHUN IBU KE 28


Ulang Tahun sebenarnya bukanlah hal yg luar biasa menarik utk diceritakan karena akan selalu berulang setiap tahun, apalagi ibu sudah mengalaminya sampai 28 kali (red-udah tua ya). Tapi ada cerita dibalik ulang tahun ibu kali ini yg ingin ibu share utk semua....

Minggu, 8 Juli 2007 adalah tepatnya ulang tahun ibu. Ibu terbangun mendengar suara sms dari ayah dan mbah, keduanya mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Belum sempat ibu jawab sms, keduanya menelpon... senang hati ibu walaupun jauh dihati ibu terasa sepi... (Lita and the gank baru akan pulang dari Bali sore hari) Tak apa... itulah hidup, ibu gak boleh sedih. Ibu naik sepeda berencana ke rumah Pakde Ari, berharap ada yg mengucapkan Ultah disana, sambil beli kue ultah utk diri ibu sendiri dg bertulis : "Happy B'day Ibu Tersayang" :)
Sayang, ternyata tak satupun di rumah pak De ingat ulangtahun ibu, so ibu pulang tanpa ucapan. Sedikit sedih sih, but never mind... Ibu pulang sambil ambil kue langsung ke rumah... didepan rumah Papa Nanda pun ternyata tidak tahu ibu ultah, sampai akhirnya ibu menunjukkan kue ultah ibu... Never mind... Tapi ada satu lagi yg melupakan ultah ibu, yaitu mama nanda, sampai akhirnya ibu harus bilang klo ada yg ultah... never mind.... I Know everybody has their own life :)
Yang penting dan membahagiakan adalah ketika anak2ku bisa ikut tiup lilin bersama... Terharu ibu setelah 2 minggu berpisah dg anak2 baru terasa mereka sangat berarti buat ibu.

Senin, 9 Juli 2007, pagi seperti biasa ibu mulai hari2 dengan cek email... surprise!!! sekitar 10 email lebih muncul dengan subject happy b'day... Paulien, mbak Maria, mBak Amalia, mBak Wulan, Bli Ode, mBak Dana, Bli Kusir, Bli Warsa, mas Ari, mas Wawan, Bli Tut, Atik, Bli Sujata. Ada juga yang menelpon dan sms, mas Bayu, Melna, mBok Iluh. Hampir setengah hari ibu disibukkan oleh menjawab email2 itu. Dalang dibalik itu semua adalah siapa lagi klo bukan ayah tercinta... Makasih ayah.

Selasa, 10 Juli 2007, seperti hari biasa gak beda. Cuman ada kejutan yg datang disore hari, kiriman bunga dari ayah... "Hari ini ada cinta, seperti hari2 lalu, Selamat ulang tahun"... Makasih ayah... Romantisme yang biasanya sudah dilupakan orang, tapi sangat bermakna dalam menjaga cinta. Temen2 banyak yg iri lho... mgkn mereka akan mengkopi metode ayah... hehehe


Begitulah sekilas cerita yg mungkin dianggap biasa, tapi sangat berarti buat ibu.... (foto2 akan segera menyusul ya)

Chatting sama Lita

Sunday, July 08, 2007

Touching moment

Minggu, 8 Juli 2008 adalah hari terakhir Lita liburan di Bali. Saatnya terbang kembali ke Bekasi menuju pangkuan Ibu.

Inilah saat-saat yang paling menyentuh bagi keluarga. Semua orang rumah melepas kepergian Lita di gapura, menyaksikan Lita yang sudah ada di mobil. Pekak dan Ninik mengantar Lita dan Kadek menuju Bandara. Sebelum masuk mobil Lita mencium semua orang untuk pamitan. Semua orang tanpa kecuali. Setelah masuk mobil, Lita pun melambaikan tangan tidak saja kepada keluarga yang menyaksikan penuh haru di gapura tetapi juga kepada para tetangga dekat yang menyaksikan dari depan rumah mereka. Lita melambaikan tangan ke kumpulan orang di sebelah kiri dan kanannya membuat semua orang tersenyum haru. Lita memang anak yang istimewa.

Selamat datang di pangkuan ibu ya...

Saturday, July 07, 2007

Lita dan anak entok

Kisah-kisah kecil selama di desa, selalu menarik bagi Lita. Salah satunya adalah cerita tentang anak entok (mentok) Pak Mang. Beberapa hari yang lalu telur-telur entoknya telah menetas dan kini Pak Mang memiliki beberapa ekor entok kecil yang tentu saja lucu-lucu. Pak Mang adalah kakaknya Pekak yang tinggal satu lingkungan rumah. Adalah hal biasa di Bali kalau ada beberapa keluarta tinggal dalam satu lingkungan rumah dengan satu Pura Keluarga (sanggah) tetapi masing-masing memiliki bangunan rumah sendiri. Satu lingkungan rumah ini ditandai dengan satu gapura dan satu sanggah.

Lita sangat menikmati bermain-main dengan anak entok. Bagi seorang Lita yang bahkan lahir di Sydney, melihat entok di alam nyata saja adalah pengalaman menakjubkan. Tentunya semua menjadi lebih istimewa lagi karena kini Lita bisa membelai-belai anak entok itu. Lita, kata Niniknya, sangat girang membelai anak-entok yang baru berumur beberapa hari. Bulu-bulunya pasti sangat halus dengan suara kikik kikik yang terdengar halus dari mulutnya. Semua itu membuat Lita semakin excitied.

Yang menyenangkan bagi Pak Mang dan semua orang di rumah termasuk Kak Ayan dan Kak Obo adalah Lita yang tidak takut dengan siapapun. Lita selalu cepat akrab dengan mereka, selalu tertarik dengan aktivitas bernuansa desa dan selalu mau kalau diajak melihat atau bahkan melakukan kegiatan itu. Lita tidak jarang minta ikut ke sawah ketika Kak Obo berangkat dengan cangkulnya. Begitu juga ketika Kan Ayan pergi melihat tanaman pertaniannya. Semua orang merasa Lita betah di rumah dan menjadi bagian dari keluarga. Awalnya banyak yang menduga Lita akan jadi anak kota, takut kotor, takut ayam, takut entok dan tidak mau dekat dengan babi yang bau. Ternyata anggapan itu salah. Lita sangat cepat dekat dengan hal-hal alami seperti itu. Sepertinya naluri alamiahnya sangat kuat.

Ayah jadi ingat masa kecil dulu ketika ayah memelihara berbagai jenis binatang dan dibiarkan berkeliaran di sekitar rumah. Mungkin tidak banyak orang ketika itu berhasil membuat burung emprit menjadi jinak, tekukur yang bisa datang ketika dipanggil, tupai yang berumah di gapura dan selalu menyambut ayah ketika pulang sekolah dan seekor kucing yang dengan setia berburu kadal di sawah sambil mengantarkan ayah mandi di pancuran. Cerita itu seperti bergema dan gemanya sampai ke Lita. Lita anak yang istimewa, seorang ksatria perempuan yang mencintai binatang...

Friday, July 06, 2007

Lita di desa

Sebelumnya Ibu sudah cerita kalau Lita ada di Bali sama Ninik dan Pekak nya. Biarpun Lita ada di Bali, kami selalu memantau perkembangannya. Bedanya, kini tidak bisa dengan webcam, harus lewat telepon he he he. Masih untung di desa ada telepon. Hal lain lagi, cerita seputar Lita di desa tidak akan dilengkapi foto karena memang di desa tidak ada kamera digital. Jangankan kamera digital, kamera analog saja tidak ada he he he. Ini beberapa cerita seputar Lita di desa.

Takut Anjing
Yang jadi ciri khas suasana desa di Bali adalah anjing yang berkeliaran dengan bebas. Tentu saja ini aneh sekali bagi Lita. Lita paling takut dengan anjing dan selalu teriak kalau didekati anjing. Padahal, menghindari anjing di Bali sama dengan menghindari sepeda motor. Tidak mungkin tidak bertemu. Saya bilang, populasi anjing di kampung sama dengan populasi motor. Setiap keluarga punya minimal satu :)
Setelah seminggu lebih di desa, Lita kini sudah terbiasa dengan anjing dan bahkan bisa tidur ditemani lolongan anjing di malam hari.

Lita degeng
Degeng itu artinya well-behave, tenang dan tidak rewel. Niniknya bilang, Lita bahkan sama sekali tidak pernah nangis. Nangis dua kali malam-malam karena bermimpi, sisanya happy. Kalau dulu Lita digigit nyamuk dan menimbulkan bekas, kali ini tidak lagi. Mungkin Lita sudah kebal :)

Lita ke sawah
Pekak-nya memang seorang petani, jadi cucunya pun harus mengenal pertanian. Lita paling senang diajak ke sawah melihat tanamannya Pekak. Pagi-pagi sudah diajak ke sawah atau ke ladang melihat tanaman. Bagi Lita, ini tentu saja pengalaman yang sangat berkesan. Mana pernah Lita melihat padi dan tanaman ketela rambat atau labu. De desa semuanya ada dan disaksikan dengan gratis. Lita perlu melihat kenyataan itu agar tahu dari mana ayahnya berasal dan dengan suasana apa ayahnya dibesarkan.

Lita mandi bola
Ini satu kegiatan yang sebenarnya tidak mencerminkan suasana desa. Tetapi niniknya kasihan karena sehari-hari Lita hanya bermain dengan ayam, itik, entok, anjing dan padi di sawah. Pengen juga sekali-sekali mengingatkan Lita dengan mainan yang biasa dilakukan di Jakarta dan Jogja, yaitu mandi bola he he he. Masih untung rumah tidak terlalu jauh dari Hardy's swalayan yang ada fasilitas mandi bolanya. Jadilah Lita menikmati juga permainan yang biasa dilakukannnya. Kalau saya bilang, ngajak Lita mandi bola sebenarnya tidak tepat saat berada di desa. Lebih baik kalau diajak mandi di sungai, atau di pancuran yang tidak jauh dari rumah. Tapi tidak apa-apa, Ninik Pekak-nya biar senang.

Lita banyak teman
Namanya juga desa, banyak anak-anak dan semua orang saling kenal. Setiap hari Lita menerima kunjungan dari teman-teman kecilnya yang betah di rumah hingga malam hari. Lita mulai berkomunikasi dengan bahasa anak-anak desa, sangat menyenangkan.

Lita semakin pintar bicara
Sejak di desa, Lita banyak berinteraksi dengan anak-anak kecil yang beragam sifatnya. Ini membuatnya semakin pintar biacara. Lita sudah bisa menirukan hampir semua kata-kata yang diucapkan Pekak atau Ninik. Setiap kali ditelepon ayah atau ibu, Lita selalu unjuk gigi dengan kosa kata barunya.

Begitulah Lita di desa, mungkin ibu punya cerita lain seputar Lita selama dia Bali.
Oh ya, tanggal 8 Juli Lita akan kembali ke pangkuan ibu di Bekasi. :)

Wednesday, June 27, 2007

Tuesday, June 26, 2007

Berpisah untuk sementara

Berpisah untuk sementara antara ayah dan ibu, itu bukan lagi hal yang baru. Sudah 3 bulan kami berpisah dan rindu masih bisa dipendam. Namun mulai kemaren ibu harus berpisah selama 2 minggu dengan putri kesayangan ibu. Jujur saja rasanya lebih berat berpisah dengan Lita dibanding berpisah dengan ayah. Memang hubungan darah antara ibu dan anak terbukti sangat kuat.
Begini ceritanya, sudah 2 bulan yll kami punya plan utk isi holiday schoolnya nanda dengan berlibur ke bali. So, berangkatlah kami semua kecuali papa pada tgl 22 Juni. Sayang sekali ibu hanya bisa cuti satu hari sehingga ibu harus kembali ke jakarta tg 24 juni. Sesampainya di Bandara mama, nanda dan gita dijemput kakak papa utk langsung meluncur ke klungkung sementara mbok dek juga dijemput kakaknya utk langsung meluncur ke Piling. Lita dan ibu dijemput ninik pekak menuju rumah. Lita langsung lengket sama mereka terutama pekak.
Hari Sabtu, Lita di rumah saja dan langsung akrab dengan teman barunya, Sinta (SD klas 4) dan Tu Gek (SD Klas 5). Awalnya Lita memanggil mereka "teteh" (dalam bhs sunda berarti kakak), tapi lama2 dipanggilnya kakak. Semua orang senang melihat Lita... kedekne care moyo....
Hari minggu, Ibu, Lita, Pekak dan teteh2 pergi ke piling buat jemput mbok Dek. Sudah tradisi klo ke Piling harus mampir ke rumah mbok Ngah... Lita sempet maem disana dan numpang eek... hehehe. Setelah itu langsung meluncur ke rumah mbo Dek. Di sana Lita seneng sekali liat pupy milik Kadek... Lita lebih berani pegang dibanding dengan guguk yg besar. Setelah ngobrol, kami langsung pulang... Sempat istirahat 30 menit, langsung ibu berangkat menuju Bandara diantar nini pekak, om pik, mbok dek dan Lita. Sebelumnya kita harus mampir dulu ke rumah mbok Iluh karena dyah semalaman nangis ingin ketemu ibu utk tunjukin rapotnya. Senang sekali semua bisa kumpul. Lita langsung asik maen sepeda roda tiga.
Saat nya ke bandara, sepanjang jalan ibu memandang Lita, merenungi diri sendiri, apakah saya termasuk orang tua yg tega ama anak? Yakinkah ibu klo Lita bakal baik2 saja? Mudah2an, batin saya. Paling berat hati saya ketika kami berada di depan pintu cek in. Ibu bicara dengan Lita utk pamit dan menyampaikan pesan. Litapun angguk2 dan berikan kedua jempolnya sambil bilang OKE.
Setiap hari ibu follow up kondisi Lita, ternyata Lita nampak happy dan ceria. Ibu senang mendengarnya walaupun ibu sangat kesepian. Ternyata arti penting kehadiran seseorang buat kita baru dapat dirasakan ketika dia tidak ada. I Miss U honey....

Love
Ibu

Monday, June 25, 2007

Pemandangan dari Jendela

Memandang alam sekitar dan menikmatinya kadang bisa jadi pelarian sesaat yang menyejukkan setelah seharian di depan komputer. Memandang di kejauhan dari jendela di lantai 3 ini memberikan sajian alam yang ternyata indah. Keindahan ini tidak sering dapat dinikmati karena kesibukan dan ketidakpedulian. Sekali dilihat, banyak yang dia ajarkan tentang ketenangan, ketinggian, pencapaian dan bahkan kearifan.

Memandang alam dan menikmati keindahannya memang bisa menjadi pelepas dahaga, obat kerinduan akan canda kerabat yang jauh, pun bisa menyegarkan raga untuk kembali bekerja dan bekerja.

Winter mulai datang

Winter mulai datang. Wollongong nampaknya sedikit lebih dingin dibandingkan Sydney. Selain suhunya yang memang menusuk, anginnya sangat kencang sehingga jarang orang betah di luar rumah. Betapapun dinginnya, kehidupan harus berjalan, aktivitas harus tetap ditunaikan. Ke kampus pun harus tetap dilakukan. Untuk tantangan dan ketidaknyamanan seperti inilah rupanyan fellowship ini diciptakan, bukan untuk gaji bulanannya yang menggiurkan. Atau kalaupun gajinya memang membutakan, pastilah untuk ketidaknyamanan ini, gaji itu harus dikompensasikan.

Singkat cerita, ini adalah seragam ayah kalau akan berangkat ke kampus. Ayah naik sepeda selama kurang lebih 10 menit (kalau ngebut) dengan jalanan yang relatif bergelombang (untuk standar Australia). Walaupun dingin, terasa sehat. Lumayan exercise 20 menit setiap hari :)

Sunday, June 17, 2007

Lita Maen Sendiri

Ibu baru aja pulang dari Lampung nih. Sampai rumah langsung potong rambut, kegerahan katanya. Menurut ibu sih rambutnya jadi kependekan sekarang, tapi bagus kok. Masih tetap cantik :-)

Lita sudah lama belajar makan sendiri tapi ya itu, diacak-acak he he he. Sekarang Lita belajar maem sendiri pakai bubur ayam. Lihat tuh Lita makan ditemani Ibu dan disaksikan ayah dari kejauhan :)

BTW, sebentar lagi Lita mau ke Bali sama Ibu, Mama, Kakak Nanda, Gita dan Mbok Kadek. Lita nanti tinggal di Tabanan sama Ninik selama dua minggu sementara ibu di Bali selama 2 hari saja. Mudah-mudahan tidak ada masalah ya selama Lita liburan di Tabanan.

Sunday, June 10, 2007

Ibu mau ke Lampung

Rabu minggu ini Ibu mau ke Lampung. Wah terbang terus ya Bu, bertualang di seluruh nusantara. Lita benar-benar sudah terbiasa ditinggal Ibu dan Ayahnya :) Mudah-mudahan Lita jadi anak yang mandiri. Makasih ya buat Mama, Papa, Kakak Nanda dan Mbak Gita serta Mbok Kadek yang menjaga Lita selama tidak ada ayah ibunya.

Oh ya, foto ini diambil (lagi-lagi) dari webcam. Ibu cantik ya he..he.. baju merah kelihatan cerah. Tapi bukan celana panjang merah lo ya :) [ingat cerita lama].

Monday, June 04, 2007

Lita Otonan ke-3

Ini hari yang istimewa bagi Lita karena hari ini Lita tepat berusia tiga oton. Satu Oton adalah 210 hari yang merupakan pertemuan antara perhitungan hari berbasis lima (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) dan bebasis tujuh (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu) dan dikaitkan dengan pawukon yang merupakan perhitungan berbasis 7 dan 30 (kalau ini agak rumit untuk diceritakan). Singkat kata, Lita lahir pada hari Senin Pahing Warigadian, hari inipun adalah Senin Pahing Warigadian. Hari ini meupakan hari lahir atau birthday Lita, tetapi bukan Ulang Tahun :).

Karena ayah sedang jauh di negeri orang, maka ayah mengikuti upacara Lita secara virtual saja dengan webcam. Thanks to Gtalk untuk transmisi suara dan YM untuk transmisi video. Perkembangan teknologi telah mengubah cara kami berkomunikasi, berkeluarga dan bahkan beragama. Tuhan juga pastilah internet literate sehingga Beliau pasti memaklumi umatnya yang sedang terpisah ribuan kilometer dan harus memanfaatkan teknologi ini untuk melaksanaan otonan.

Lihatlah Lita dengan kabaya merahnya, cantik sekali ya :)
Cerita lainnya akan diposting sama Ibu, mungkin ceritanya bisa lebih detail ya nanti.
Berikut ibu posting foto2 yang sempat diabadikan. Thanks to Bu Budha (ibu kepala bimas) atas bantennya yg amat lengkap. Pak Mangku di bekasi yang bersedia pimpin upacara, pak Nyoman yg membantu penjemputan, bli Tut sang photographer, mBak Mang yang gantiin ibu mebanten (kr ibu sedang mens), dan bulik ik serta kadek yang sibuk persiapkan hidangan yg lezat.


Banten otonan Lita yang dipesan dari Ibu Budha... cukup lengkap dengan tumpeng 11 dan banten suci.

Banten yang diletakkan dimana ari2 Lita ditanam. Ari2 yang pertama ditanam di Sydney dalam sebuah Pot yang ditanam pohon kecil.... As ayah said it still be treated well there by Bli Sutil family. Banten Kumara



Mbah dan Kakung datang ke Jakarta utk menghadiri serangkaian moment penting: otonan Nara, ultah pernikahan mbah, ultah Gita dan otonan Lita. Makasih ya mbah dan kakung.


Lita natab di ari2.


Satu hal yang kebetulan adalah Kadek yang ngempu Lita memiliki otonan yang sama dengan Lita, sehingga juga bertepatan dengan ulang tahunnya.... Jadi sekalian kadek natab bareng Lita


Lita agak rewel karena menjelang natab, sempet salto di depan pintu... Ibu juga sempet ganti baju karena abis nangis Lita muntah dibaju ibu... Pak mangku ketis tirta supaya agak tenang.

Semoga Lita tumbuh jadi anak yang sehat dan berbakti pada orangtua

2 Gadis kecil yang cantik tumbuh bersama dan bergandengan tangan... Mungkin sudah 101 orang yang menanyakan apa keduanya kembar...

Walaupun ada perkelahian, cakaran, gigitan dan pukulan, keduanya saling menyayangi... saling mencari jika salah satunya tak ada... Berpelukannnn

Anak2 nampak kehausan setelah upacara selese... santai2 minum dulu... Nanda punya kawan main baru, putra ibu Budha, Bhisma... (klo ayah ingat nama Bhisma juga kita persiapkan)

Lita dan Gita bantuin nglungsur banten, lalu membantu acak2in hehehe.... Liat Lita lahap makan nasinya... Lita emang punya kebiasaan makan nasi jotan sejak 5 bulan lalu...

Sunday, June 03, 2007

Ayah beli webcam :)

Setelah beberapa lama menabung dan dibarengi puasa yang ketat, akhirnya ayah berhasil membeli webcam sehingga bisa video chat sama Lita. Webcamnya bisa kebeli karena kebetulan ada diskon gede-gedean. Barang yang tadinya hampir AUD 29 bisa terbeli seharga AUD 17. Bayangkan, diskonnya hampir setengahnya. Seandainya tidak ada wabcam murah, mungkin ayah belum bisa kali belim webcam he..he..

Ini salah satu tampilan webcam di Bekasi waktu Lita dan ayah video chatting. Lita bawa maianan yang dasyat bisa mengeluarkan sinar laser lo. Itu mainan apa ya?

Thursday, May 31, 2007

Tour de Canberra

Akhir pekan lalu 26-27 Mei, sempat jalan-jalan ke Canberra menemui Bang Hendra dan keluarga. Bang Hendra adalah UN-Nippon Fellow yang banyak membantu selama aplikasi fellowship ini. Bang Hendra dan keluarta (Mbak Rino, Adrian 'the fireman', Uni Era, Anisa dan Nurul) sangat baik. Saya bahkan diperbolehkan menguasai kamar Adrian sementara sebagai tempat menginap. Beberapa foto sempat diabadikan, walaupun tidak sesemangat tahun 2004 ketika ke Canberra pertama kali :)
Di depan National Museum, gedungnya cantik, warna-warni dan asimetris :)


Canberra dari atas bukit.


Selama di Canberra sempat melihat pameran pemadam kebakaran. Ratusan anak dan orang tua datang dan anak-anak boleh naik kendaraan pemadam kebakaran dan mengamati dekat peralatan pemadam kebakaran. Banyak dari anak-anak ini yang bercita-cita menjadi fireman :)

Oh ya, di Australia, nomor telepon darurat bukan 911 tapi 000. Perlu diingat-ingat oleh siapa saja yang ingin datang ke Australia. Saya nampaknya terlalu banyak nonton film Holywood sehingga tahunya hanya 911 sebagai nomor darurat.

Tuesday, May 29, 2007

Lita menjelang 3 oton

Tidak terasa, Lita sudah tumbuh dan berkembang pesat sekali. Apalagi menjelang 3 oton ini. Bicaranya sudah lancar sesuai kemauannya, hobinya merusak maenan, yang unik lagi Lita takut akan gelap... akuk elap... Berikut beberapa foto yang sempet diabadikan bulan Mei ini.


Ibuk... Lita eek... eek becal kali... ibuk iyam dong (siram)... sambil maenan air, gak terasa udah selese... ibukkk... eek udah... ebok dong.

Lita pingin pake kacamata kaya ibu... tapi kebalik hehe... paling suka nglepas kacamata ibu klo mau bobo dan taruh dimeja. Aca (kaca) ibu na (mana)... bukak dong...
Klo beli baju harus dua dan sama walau warna bisa beda. Sudah seperti anak kembar memang. Klo gak gitu, kadang Gita nangis mo pake baju kaya dek Lita....
Liat aja dari kepala ampe kaki harus sama. Pake topi, celana kantong dan sandal. Btw, bagi yang sedang overseas, FYI, sekarang enggak yang besar enngak yang kecil sedang musim pake celana kantong seperti yang dipake Lita dan Gita.... So Ibu, Mama dan Mbok adek punya juga dan kembar juga. Yang belum mengikuti mode hanya papa dan nanda hehehe....