Saturday, January 12, 2013

Perpisahan yang mengharu biru


Saya sejatinya tidak mudah galau tetapi hari ini merasakan galau yang teramat sangat. Hari ini Asti, isteri saya, bertolak ke Bali untuk selanjutnya menuju Sydney tanggal 16 Januari nanti. Asti, seperti yang pernah saya ceritakan, berhasil mendapatkan beasiswa ADS dan akan memulai sekolah S2 di UNSW pada akhir bulan ini. Yang membuat galau tentu saja bukan kedatangan Asti ke Sydney yang justru saya syukuri. Yang merisaukan adalah Lita, anak saya, yang tertinggal di Jogja. Mulai hari ini Lita secara resmi terpaksa kami tinggal di Jogja dan kami sementara akan hidup di Negeri Kangguru. Saya tidak menemukan kata-kata yang dramatis untuk menggambarkan kegalauan hati kami.
Banyak yang bertanya, mengapa Lita tidak dijak saja ke Australia, berkumpul bersama orang tuanya. Hal ini tentu sudah menjadi pertimbangan kami. Alasan utamanya adalah saya yang akan pulang ke Indonesia mendahului Asti sehingga akan lebih rumit lagi urusannya jika Lita diajak sekarang dan nanti Asti dan Lita saya tinggal berdua di Sydney. Tentu tidak mudah bagi Asti untuk menyelesaikan tugas sekolah dan mengurus seorang anak yang membutuhkan perhatian. Singkat kata, berbagai pertimbangan mengarahkan pada keputusan bahwa Lita tetap akan berada di Jogja. Selain kerumitan perjalanan, ada urusan administrasi sekolah yang juga akan terganggu. Syukurlah seluruh keluarga besar mendukung keputusan ini.
Sore tadi, sekitar jam 1 WIB saya sudah online dengan Asti lewat Skype, menyaksikan dia berkemas di saat-saat terakhir. Penerbangannya sedianya jam 4 sore menuju Bali (saat saya menulis ini, Asti masih di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta karena keberangkatannya ditunda akibat hujan lebat). Sementara itu, saya melihat Lita asik bermain di komputernya, sesekali saya dengar suara kartun kesukaannya yang ditonton lewat Youtube. Sepintas nampak biasa saja tetapi saya tahu hatinya murung. Beberapa malam terakhir ini Lita beberapa kali tiba-tiba menangis dan berkeluh kesah soal keberangkatan ibunya. Sesiap-siapnya anak kecil, ada kesedihan mendalam yang tidak bisa diungkapnya ketika akan ditinggal ibunya. Saya memahami ini dengan baik. Hari ini Lita nampak sudah tegar karena sudah beberapa kali diberi pengertian. Saya agak tenang.
Tiba-tiba, entah darimana asalnya, Lita menangis terisak. Rupanya dia teringat lagi akan kepergian ibunya beberapa saat lagi dan kesedihan melanda hatinya. Saya yang melihat adegan itu dari seberang benua hanya bisa tersenyum getir. Berusaha menenangkan dengan suara yang berusaha saya yakin-yakinkan. Tidak ada satu kata-kata motivasipun yang bisa meredakan sedih saya. Astipun mendekap Lita, mbah puteri mendekati dan saya juga memberinya hiburan. Saya tidak tega menyuruhnya diam atau sekedar berkata “jangan sedih” karena nasihat itu jelas-jelas bertentangan dengan apa yang saya rasakan. Akhirnya Lita diam, setelah perhatiannya pelan-pelan diarahkan ke beberapa mainan dan binatang. Saya hanya menyatakan terima kasih saya yang tulus atas segala pengertiannya, tidak layak rasanya memberi nasihat.
Asti masih berkemas, suasana mulai sedikit genting karena hujan mulai turun sementara waktu berlalu cepat. Sebelum berangkat saya minta Asti dan Lita berpelukan di depan kamera Skype dan saya abadikan foto keluarga virtual itu. Lita mendekap ibunya dengan erat seakan tidak ingin dilepaskan. Ada isakan lagi, tidak saja dari mulutnya tetapi dari dalam hatinya. Saya kembali tersenyum getir menenangkan. Meskipun sedih, Lita luar biasa dalam hal kompromi. Dia tidak pernah harus dipaksa untuk urusan yang satu ini. Diapun melepaskan ibunya meski dengan berat hati.
Tibalah waktunya Asti beranjak dari rumah, naik motor diantar oleh anak kos. Meninggalkan rumah dalam keadaan hujan, naik motor dengan kopor yang cukup besar dan meninggalkan seorang anak yang berlinang air mata bukanlah hal yang menyenangkan. Tetapi hidup harus berjalan. Kami sudah menetapkan pilihan dan pantang untuk berbalik arah apalagi mundur. The show must go on. Astipun hilang dari pandangan Lita dan mbahnya. Sementara itu, saya dengan sabar menemani Lita lewat Skype. Saya tanyakan berbagai hal untuk mengalihkan perhatiannya. Saya tahu, Lita tidak bisa ditipu. Semua harus dijelaskan dengan baik dan apa adanya, tidak ada sembunyi-sembunyi, apalagi urusan perpisahan. Yang bisa dilakukan hanya memenuhi kepalanya dengan banyak urusan lain yang disukainya sehingga dia bisa terhindar dari hantaman sedih yang berkepanjangan.
Kegalauan ini mengingatkan saya lagi bahwa keberhasilan itu sesungguhnya hanya satu titik kecil dari sebuah bangunan besar perjuangan yang harus dilakukan dengan keringat dan air mata. Bahwa keberhasilan memenangkan beasiswa ADS yang dikagumi orang itu sesungguhnya buah sebentuk perjuangan besar dan bisa jadi ada sebagian orang yang harus rela melepas kenikmatannya. Kami bersyukur atas keberhasilan Asti mendapatkan kesempatan sekolah di UNSW. Meski demikian, perlu diingat bahwa keberhasilan itu harus dibayar dengan perpisahan yang mengharu biru. Kita memang mudah silau oleh keberhasilan tetapi jarang sempat menyimak seberapa pengorbanan yang harus dilakukan untuk menuai keberhasilan itu.
Meski sedih dan rumit, kami tidak menyesal. Kerumitan itu kami ciptakan sendiri karena keberanian mencoba-coba dan bermain dengan risiko. Jika kini kami harus membayarnya, ini semata untuk membuktikan bahwa memang tidak ada kenikmatan yang datang dengan mudah tanpa bersakit-sakit. Saya mensyukuri Lita yang tabah luar biasa, orang tua dan mertua yang tidak perlu dipertanyakan dukungannya dan adik kakak serta ipar yang senantiasa ada dan bahkan menggantikan kewajiban kami. Sulit rasanya menemukan orang yang seberuntung kami dengan dukungan luar biasa. Maka jika ada yang bertanya “milik siapakah sesungguhnya keberhasilan ini?” jawabanya adalah “milik keluarga besar kami dan teman-teman yang selalu membantu.”
Saya menuliskan ini untuk menjinakkan kegalauan sekaligus berbagi. Bahwa perjuangan meraih beasiswa itu memang berat tetapi tidak ada apa-apanya dibandingkan menjalani beasiswa itu hingga tuntas. Kesulitan akan hadir, maka bersiaplah. Pejuang yang sesungguhya memang dibesarkan oleh tantangan dan dikuatkan oleh kesulitan. Bahwa bayangan keindahan saya yang akan bertemu dengan Asti harus dilatari kesedihan perpisahan dengan Lita. Ini mungkin jadi penanda bahwa tidak semestinya orang terlena dengan kenikmatan karena selalu ada kesedihan yang mengancam dan mengintip setiap saat. Dan seperti kata orang bali, Rwa Bineda, ada dua hal yang selalu hidup berpasangan untuk menyeimbangkan: sedih-bahagia, hitam-putih, pertemuan-perpisahan.
Satu pelajaran penting yang saya petik adalah bahwa keterlibatan saya membantu perjuangan para pemburu beasiswa ADS dan beasiswa lainnya sesungguhnya bagian dari sebuah sejarah besar, jauh lebih besar dari sekedar lolos seleksi. Sejarah itu turut menentukan jalan hidup yang di dalamnya ada pertemuan yang menaikkan adrenalin dan perpisahan yang mengharu biru. Dan saya hanyalah seorang ayah biasa yang teriris hatinya melihat air mata puteri semata wayangnya turut menjadi saksi perjuangannya. Terima kasih Lita, selamat berjuang Asti.

Saturday, December 22, 2012

Lita's Laptop

Lita memang kreatif. Sepertinya dia memiliki imajinasi yang sangat bagus sehingga bisa membuat sesuatu dengan meniru benda yang dilihatnya. Kali ini Lita membuat laptop dari buku tulis, lengkap dengan program yang berjalan. Google tentu saja yang paling diingatnya. Lita kemudian menjelaskan laptop itu kepada ayahnya lewat Skype. Berikut adalah video Lita.

Saturday, December 01, 2012

Lita belajar Agama Hindu

Inilah gaya Lita belajar agama Hindu menjelang ulangan. Pelajaran agama Hindu dipandu ayahnya saat liburan di Jogja beberapa waktu lalu.

Lita's Animal Farm

This is Lita's animal farm. She made a show of it through Skype for her ayah in Australia. Go Lita!

Saturday, November 17, 2012

Kreativitas Lita

Belakangan ini Lita gemar memperhatikan tayangan pembuatan kerajinan tangan di YouTube. Salah satu channel yang digemari Lita adalah Froggy Stuff yang menampilkan cara membuat berbagai kerajinan tangan (craft). Ini adalah salah satu hasil karyanya berupa kompor (stove) dan tempat cuci piring (sink). Lita menjelaskan karyanya pada ayahnya. Komunikasi dilakukan dengan Skype.

Monday, October 22, 2012

Gembira Loka Zoo

Lita mendapat hadiah jalan2 ke kebun binatang GEmbira Loka bersama kakung, mbah putri, Om Pik, Ayah dan Ibu. Lumayan melelahkan, tapi Lita sangat menikmatinya.
 Naik Komodo....
 Macam2 katak....
Kakung giginya ompong....
Kasih makan rain deer...

Monday, August 20, 2012

Ibuku - Puisi karya Lita

Tradisi belajar menggunakan alat komunikasi jarak jauh: Skype. Hari ini Lita membuat kejutan dengan menuliskan puisi untuk Ibu dengan judul "Ibuku". Lita membacakan puisi itu dan saya rekam lewat Skype dari Wollongong. Sementara Lita dan Asti, Ibunya, berada di Bali. So touching :)


Wednesday, August 15, 2012

Perjalanan Lita Jogja-Denpasar: part 2

Silakan baca Part 1.

Sesampai di dalam mobil, Lita pun saya minta menelpon mbah putri di Jogja dan sms ayah untuk mengabarkan kesuksesannya. Tak henti-hentinya dia bicara di dalam mobil. Ayah segera menelpon Lita setelah menerima sms Lita,"Hi ayah, ini Lita < 3". "I'm ok yah. Why do you sound sad?" Percakapan Lita dan ayahnya cukup lama, sehingga Lita mencari posisi nyaman dalam mobil sambil tiduran dengan kaki diletakkan diatas pangkuan saya, sambil menikmati Chitato hadiah akan keberaniannya. Lita pun berjanji akan cerita perjalanannya sesampai di rumah.

Malam itu Lita menunggu panggilan petugas Garuda di luar pintu masuk bersama mbahnya setelah melakukan cek in sebelumnya. Mbah bercerita kalau Lita sangat bersemangat, diciuminya mbah sambil terus bilang, "Mbah, I Love you". Begitulah kedekatannya dengan mbahnya yang berjasa besar dalam perjuangan saya kali ini, Tanpa beliau yang mengambil alih fungsi orangtua Lita, saya tidak akan bisa menjalani EAP di Bali. Mbahpun terharu melihat sikap Lita itu, yang biasanya lebih sering membuatnya marah karena keisengan Lita. Lima menit menjelang take off Lita dijemput petugas untuk boarding. Berikut cerita yang berhasil saya kumpulkan disela-sela percakapan kami sepanjang jalan menuju Tabanan.

Ibu:"Lita duduk dimana dan sama siapa?"
Lita: "Lita disini deket jendela, sebelah sini ada orang Australi, perempuan". Sambil tangannya sibuk menggambarkan posisinya dalam pesawat.
Ibu: "Lita bisa pasang seatbelt?"
Lita: "It's easy Ibu, I can do it by myself"
Ibu: "Gimana waktu pesawat take off? Are you scared?"
Lita: "I'm not scared at all Ibu. I just hold like this and my body bend like this" Sambil tangannya berpegangan di kiri kanan tempat duduknya dan badannya menunduk.
Ibu: "Lita ngapain aja selama di pesawat?"
Lita: "I play with my toy, zebri" Sambil mengelus-elus boneka zebra hadiah dari mbah sewaktu kenaikan kelas.
Ibu: "How about your bird, Blue?" Blue adalah burung imajinasi Lita, tokoh dalam film Rio, yang sering menyertainya ke sekolah.
Lita: "Owww, of course he come with me, now he is in my backpack, can you open my bag ibu, please? I think Blue is out of breath" Hmmm, saya pun ikut berimajinasi, memakai tangan saya dan menirukan suara Blue.
Ibu: "There you are Lita, kwakkkkk" Litapun berimajinasi menaruhnya di atas pundaknya. "Did you talk to people next to you?"
Lita: "Yea, I have a friend Bu, but don't ask me her name, I forgot. She is from Australia. She asked me, Hello what's your name?" Saya yakin belum tentu dia orang Australia, karena semua bule dan berbahasa Inggris bagi Lita adalah orang Australia.
Ibu: "How come she knew that you can speak English?" Penasaran saya.
Lita: "Yea, when I play with Zebri, I count in English, twenty one, twenty two, twenty three, a bit loud so she can hear me So the girl ask me: Hello what's your name? My name is Lita. How old are you? I'm nearly seven." Sambil mengingat percakapannya.
Ibu: "Wow Lita hebat berani ngobrol sama orang lain"
Lita: "Yea ibu, that's why the girl gave me lots of candies. Look at my pockets" Sambil menunjukkan kantong jaket pinknya yg dilepasnya dalam mobil. Kedua sisinya penuh dengan permen.
Ibu: "Wah you are so lucky Lita."

Malam itu seperti gangsingan, Lita gak bisa duduk diam dalam mobil, sebentar tiduran, sebentar pangku saya, sebentar duduk menghadap belakang, sebentar memeluk dari belakang om Upik yang menyetir.Untungnya ninik yang masih sakit bisa tertidur dengan nyaman di kursi depan, tentu karena pengaruh Neozep yang diminumnya sebelum berangkat tadi.

Ibu: "Lalu gimana waktu mendarat di Bali? Mbak Lita pasti seneng dong"
Lita: "Lita gak tau kalo sudah landing Bu. Tau-tau semua orang sudah mau turun."
Ibu: "Lho kok bisa?" Penasaran saya akan apa yang dilakukannya sehingga tidak sadar sudah landing.
Lita: "Iya, my ears can not hear well, I feel strange. Tau-tau tante pramugarinya sudah manggil Lita."
Ibu: "How about now, do you still feel strange with your ears?" Agak cemas saya mendengarnya
Lita: "It's OK now Ibu. I can hear you talking and also my zebri and blue. kwakkkkk" sambil menirukan suara Blue.
Ibu: "Syukurlah. Trus setelah dipanggil Lita ngapain aja?"
Lita: "Omnya yang bawain barang Lita, trus Lita diajak tante. Tapi untungnya belum jauh dari pesawat lho Bu, Lita tanya ke tantenya, sudah yakin gak ada yang ketinggalan? Tantenya bilang ya. Trus, Lita liat, lho tas Lita SD model mana? Waduhh masih ketinggalan di pesawat. Untung belum jauh." Ceritanya merasa seperti jadi pahlawan. Lita membawa 1 buah koper pink kecil dan tas backpack SD Model. Saya teringat, sewaktu tante petugas yang menyerahkan Lita sempat bilang kalau hampir saja tas hitam itu ketinggalan. Tapi pas saya tanya gimana ceritanya, petugas yang lain, menegaskan kalau gak masalah. Mungkin dia ingin tugasnya segera selesei. Makanya saya ingin cerita dari versi Lita.
Ibu: "What is this Lita?" Saya iseng bertanya tentang Tag yang masih menggelantung dengan tali biru di lehernya. Litapun melepasnya dan memberikannya pada saya.
Lita: "Itu ada nama Lita. Putu Ambalita Pitaloka Arsana." Sambil mengunyah chips hadiahnya. Sayapun mengamati Name Tag itu.
Ibu: "What is UM Lita?" Saya mengamati lambang di bagian tengah di remang-remang malam.
Lita: "Ibu, read on the top, Unaccompanied Minor. Mosok ibu gak bisa baca." Sambil tiduran dan mengunyah chipsnya. Malu saya dibuatnya.
Ibu: "Oh iya, bener ya Lita. Apa artinya nak?" Sedikit mengetes Lita
Lita: "Ya itu untuk anak yang gak ada yang nganter lah bu, supaya nanti klo tersesat kan gampang nyarinya. Dibawahnya ada DPS 6A 254 tanggalnya 11/08/2012." Sambil terus mengunyah. Saya pun terkejut, begitu hafalnya anak saya ini.
Ibu: "bukan 6A mbak Lita, tapi GA" Setengah gak percaya Lita mengambil name tag dari tangan saya dan membacanya ulang tulisan tangan memakai spidol biru itu.
Lita: "tapi ini seperti 6 bu, bukan G" masih setengah gak percaya.
Ibu: "Iya memang tulisannya gak bagus, tapi mbak Lita tau artinya GA?"
Lita: "enggak, apa bu?"
Ibu: "Garuda"
Lita: "oh iya Lita kan pake Garuda. Klo DPS?" penasaran dengan kode yang sempet dia hafalkan.
Ibu: "Denpasar" Lita pun memahami sekarang."Mbak Lita, hebat lho, om Upik aja sudah kelas 5 baru berani sendiri naik bus dari Jogja ke Bali. Mbak Lita sekarang kelas 2." Mengingatkan Lita akan keberaniannya.
Lita: " Yes I know Ibu, ayah told me tadi waktu call Lita" Bangga sambil memeluk om Upik dari belakang.

Demikian hasil percakapan saya dengan Lita. Sesampai di Tabanan, Lita gak ingin tidur, dia gak sabar sangat ingin bertemu dengan saudara sepupunya: Wibi, Dyah dan Wulan. Tentu kami yakinkan bahwa hari masih pagi buta, jam 1, sebaiknya Lita tidur. Bisa diduga setelah itu dia pun menikmati alam Bali dengan leluasa. Bermain sepeda, berburu ikan, bermain dengan anjing dan masih banyak lagi. Tentu saja orang-orang di desa sangat terkaget-kaget melihat Lita datang sendiri ke Bali tanpa pengawalan. Pro dan kontra itu biasa, tapi keluarga bersepakat bahwa ini semua sudah kami pertimbangkan dengan baik.

Semoga Lita mengerti bahwa kami semua menyayangi Lita. Semoga kelak engkau tumbuh jadi anak yang tangguh dan baik hati. Love you so much.

Monday, August 13, 2012

Perjalanan Lita Jogja-Denpasar: part 1

Lita, do you think you can visit ninik in Bali by yourself? Ide ini sebenernya terdengar gila waktu pertama kali muncul. Saya iseng melontarkan pertanyaan itu sewaktu menjemputnya ke Jogja utk liburan sekolah ke Bali. Lita sendiri menjawab: "How could you Ibu, I'm a bit scared if I go there by myself". Saya pun tersenyum mengerti dan menciumnya dengan lembut.

Setelah Lita menikmati liburannya dengan puas seperti mencari ikan di sungai, bermain sepeda dan anjing, menjelang kepulangannya, saya pun iseng menawarkan pertanyaan itu lagi, 'Lita suka berlibur di Bali? Lita nanti libur lebaran mau ke Bali lagi?" Lita pun dengan semangat menjawab, "mauuuuu ibu". Saya pun semangat,"tapi ada syaratnya, karena ibu gak bisa ambil libur lagi untuk jemput mb Lita, kira-kira bisa gak mbak Lita ke Bali sendiri? Ibu sih yakin mb Lita bisa" Lita pun berpikir sejenak,"Hmmmm.... mauuuu tapi...."

Sayapun menjelaskan bahwa tidak sesulit yang Lita pikir. Nanti mbah Putri antar Lita di Bandara, trus di pesawat sama pramugari, dia akan mengantar sampai ketemu ibu yang sudah menunggu di airport menjemput lita. Dan Lita gak akan lama di pesawat, hanya 1 jam saja, Lita tinggal tidur saja, tau-tau sudah sampai. Lita pun akhirnya mengerti dan sepakat mau mencoba. Walaupun mudah membujuknya, tidak mudah menata kekhawatiran saya sendiri sebenarnya. Apakah saya melakukan hal benar? Saya teringat, dalam pesawat saya pernah duduk dengan seorang anak sekitar 9 th sendiri tanpa orang dewasa, nampaknya gak ada masalah. Sayapun berdiskusi dengan mertua, ibu saya dan tentu ayah Lita, untungnya mereka merestui. Sayapun bertanya ke teman-teman di kampus, menurut mereka itu juga biasa terjadi. Untuk lebih meyakinkan saya juga bertanya pada pihak Garuda dan ternyata bisa dan tidak masalah. Singkat kata, setelah beberapa kali menanyakan kesediaan Lita, saya pun membeli tiket PP untuk Lita.

Seperti biasa, saking semangatnya Lita mulai menghitung hari sejak H-11. Sejak itu setiap hari ayah dan saya menelpon mempersiapkan mentalnya. Pada akhirnya H-3 Lita pun penegaskan,"Don't worry ibu, I'll be fine". Sampai detik-detik keberangkatannyapun saya gencar menelpon, yang secara gak sadar menunjukkan kekhawatiran saya sendiri. Jangan lupa pake kaos kaki, apa warna pakaian Lita, jangan lupa berdoa sebelum berangkat, harus dengerin pramugari, bawa mainannya dan masih banyak lagi. Tim penjemputan, termasuk ninik yang sedang sakit, dari Tabanan pun berangkat ke airport lebih awal bahkan sebelum Lita berangkat ke airport di Jogja.

Saya sempat khawatir, pesawat terlambat mendarat dari perkiraan jam 11.35 menjadi 11.50. Selanjutnya untung tidak ada delay lagi. Sepuluh menit kemudian, saya melihat Lita digandeng 2 orang petugas bandara. Yang laki membawakan koper pink dan backpack Lita, sementara yang perempuan menggandeng Lita sambil mendengar celotehan Lita. Sampai akhirnya saya melambaikan tangan ke arah Lita di pintu keluar. Lita pun langsung menghambur berlari ke arah saya. Sayapun memeluk erat dan menciuminya sambil membisikkan, "I'm so proud of you darling". Kedua petugas itupun memaklumi saya dan mengatakan Lita sangat kooperatif. Setelah menandatangani dokumen serah terima, kamipun berjalan menuju parkir mobil. Penuh puja dan puji, saya, om upik dan niniknya menyanjung keberanian Lita. Sepanjang jalan saya memandangi Lita, sampai Lita bertanya, "Why do you look at me like that Ibu?" Saya pun terharu,"I can't believe that you are a big girl now."

We are all proud of you.... bersambung

Sunday, June 10, 2012

Belajar Agama Hindu bersama Lita

Hari ini saya menemani Lita belajar Agama Hindu. Saya membuatkannya beberapa soal untuk dijawab sesuai dengan topik yang akan diujikan senin depan yaitu Trikaya Parisuda yaitu perilaku baik menurut Hindu. Saya menulis soal dalam Ms Word lalu mengirimkannya kepada Lita lewat email. Lita mengerjakannya dengan memberi warna merah pada jawabannya. Setelah itu Lita mengirimkan jawabannya ke saya dengan attachment. Ini sekaligus pertama kali Lita mengirimkan email dengan attachment. Saya memberinya instruksi lewat Skype dan ternyata dia bisa melakukannya dengan baik. Lita memang luar biasa :) Ini adalah soal yang sudah dijawabnya.
From Arsana Ashram

Wednesday, June 06, 2012

Cinta segitiga

Sejak akhir April 2012, kami bertiga berpisah. Asti di Bali untuk menjalani kursus Bahasa Inggris EAP, Lita tetap di Jogja karena harus sekolah sementara saya masih di Wollongong menyelesaikan studi. Tidak mudah, tetapi kami berusaha menjalani dengan baik. Hambatan dan permasalahan selalu ada tetapi dengan dukungan semua anggota keluarga, kami sejauh ini bisa menjalani dengan baik. Kinni komunikasi jarak jauh terasa lebih penting lagi dari biasanya. Thanks to technology, kami jadi merasa dekat. Kehadiran fisik memang tidak akan tergantikan tetapi teknologi informasi membantu mendekatkan hati yang terpisah di seberang benua. Kami menyebut ini: Cinta Segitiga :) Berikut video komunikasi keluarga selama ini.





Thursday, February 09, 2012

Asti Mendapat Beasiswa ADS


Hari ini kami bersyukur sekeluarga. Setelah menjalani perjuangan yang berat dan panjang, akhirnya Asti berhasil meraih beasiswa Australian Development Scholarship yang bergengsi itu. Ini adalah cerita saya saat mendampingi Asti melakukan perjuangan panjang itu.

Meski bahagia dan gembira, kami tahu akan ada banyak kesulitan di depan. Keluarga pasti akan tercerai berai untuk sementara. Asti akan segera ke Bali untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris, Lita tetap di Jogja dan saya masih di Wollongong. Meskipun rumit, kami tidak menyesalinya karena semua ini memang diniati. Selamat berjuang, mohon doa dari sahabat sekalian.

Tuesday, August 23, 2011

Lita ulangan

Waktu memang berjalan sangat cepat. Tidak terasa, Lita sudah menjalani ulangan yang pertama kali di SDnya. Seperti yang saya dengar dari para orang tua di waktu-waktu sebelumnya, beban materi anak-anak SD zaman sekarang ternyata memang tidak bisa dianggap enteng. Saya yang mengikuti perkembangan Lita dari jauh bisa merasakan bahwa perlu perjuangan yang keras untuk bisa bertahan dan mengikuti pelajaran di SD.



Tanggal 22 Agustus 2011, Lita mendapatkan hasil ulangan beberapa mata pelajaran. Setelah mengamati jawaban Lita saya benar-benar terpana dan terkesima. Pertama karena lembar jawabannya sangat serius, menggunakan kertas resmi dan Lita harus menuliskan nama, tanggal, hari dan seterusnya. Kedua karena soalnya sangat beragam mulai dari pilihan ganda, menjawab singkat sampai dengan uraian. Ketiga karena nampaknya soalnya sangat rumit. Dalam salah satu lembar jawaban saya melihat sebuah jawaban Lita yang berbunyi "karena manusia memiliki akal dan fikiran". Tulisan itu begitu rapi dan berupa kalimat lengkap yang bermakna sangat dalam untuk ukuran anak yang belum berusia enam tahun. Keterpanaan saya yang keempat tentu saja karena nilai Lita, menurut saya, sangat bagus. Mungkin dia bukanlah yang terbaik di kelasnya, saya tidak tahu tetapi melihat pencapaiannya saya kini tidak terlalu pusing lagi soal ranking. Dengan kemampuan seperti itu, Lita sangatlah bagus. Jika pun ada temannya yang berada di atasnya, tentu saja itu karena temannya lebih pintar, bukan karena Lita yang kurang pintar. Nilai terendah Lita adalah untuk pelajaran IPS. Saya jadi ingat masa kecil karena saya juga memperoleh nilai terendah untuk pelajaran IPS. Bedanya, nilai saya waktu itu di bawah 80, sedangkan Lita mendapat 90.

Hasil yang baik ini tentu saja kombinasi dari kerja keras Lita dalam belajar, kesabaran Asti, ibunya, dalam mengajarkan dan konsistensi Mbahnya dalam melayani Lita setiap harinya. Saya tentu saja sebagai pendukung yang tidak terlalu banyak berperan. Kalaupun ada, bisa jadi itu tidak jauh-jauh dari peran saya dalam menyumbang 23 kromosom dalam tubuhnya.

Saat menulis ini, saya terantuk lagi pada ingatan lama bahwa orang tua memang mudah sekali terjebak untuk membanggakan anaknya. Maka inilah kami, orang tua yang biasa-biasa saja dan memiliki semua sifat yang umum dimiliki orang tua: suka membanggakan anaknya. Semoga pembaca tidak menangkap cerita ini sebagai sebuah kesombongan karena manusia memang sebaiknya tidak sombong. Mudah-mudahan pembaca bisa menangkap tujuan baik dari cerita ini dan saya yakin itu karena seperti kata Lita "manusia memiliki akal dan fikiran".

Sunday, July 17, 2011

MOS (Masa Orientasi Sekolah) SD Model 2011

Terhitung sejak 11 Juli 2011, Lita sudah menjadi siswa SD di TK-SD Model Kabupaten Sleman http://tksdmodelsleman.sch.id/index.php. Ada 72 siswa yang diterima dan dibagi dalam 3 kelas: A, B dan C. Lita menjadi penghuni kelas IB bersama teman kumonnya, Unas. Hal ini cukup menguntungkan karena membantu proses adaptasi dengan teman-teman yang lain. Hari pertama MOS, anak-anak dan orangtua melakukak tour sekolah. SD model ini selain didukung tenaga didik yang handal juga infrastruktur yg memadai. Sekolah yg luas dan gedung yang bagus mudah-mudah membantu proses belajar mengajar. Hari kedua dan ketiga MOS, anak-anak diajak group discussion dan membangun komitmen dalam kelas. Hari kamis sampai sabtu, anak-anak ujicoba kegiatan belajar mengajar.


Foto bersama kelas IB dengan wali kelas: ibu Hatri dan Setowati
Duduk dalam kelas. Selain duduk dg formasi individu, kadang ada jg duduk dg formasi melingkar atau merapat di bawah dengan menggelar karpet. Nampak kelas lebih dinamis. Dibelakang kelas nampak kaca hitam 100%, dibalik kaca itu terdapat ruang observasi dimana kami bisa melihat kegiatan anak-anak.
Berbaris sebelum masuk kelas. Tak lupa lepas sepatu dan disusun rapi. Untuk masuk kelas, anak-anak diminta menjawab pertanyaan sebagai passwordnya. Siapa yang cepat boleh masuk lebih dulu dan memilih tempat duduk.
Pink Group, bersama Unas
Lita berjanji: "never stop learning, listening to everybody and ask if don't understand"
Papan kegiatan Lita di kamar: Jadwal pelajaran, jadwal kegiatan dan calender. Dibuat bersama ibu dan Lita
Buku tulis khusus dari sekolah, di cover plastik dan dinamai
Bermain bersama teman-teman di depan kelas. Seragam batik hari jumat dan sabtu. Jumlah siswa lebih banyak dari siswi, 15 dibanding 9.

Tuesday, May 31, 2011

Lita masuk SD

Bulan Mei 2011 bagi keluarga kecil kita adalah momen yang sangat membahagiakan. Bulan penuh berkah dimana ayah berulang tahun yg ke 33, Ibu mendapat berita (tak resmi) diterima ambil SpMK dan Lita diterima masuk SD Model.
Lega rasanya setelah perjuangan yang melelahkan.... walaupun perjuangan itu belum berakhir tapi setidaknya ada sedikit titik terang dari pilihan hidup kita. Saling mendukung, berusaha dan berserah diri adalah kuncinya. Kebahagiaan kita semakin lengkap karena kami akan bersama lagi di Bali dalam waktu dekat ini.
Tak terasa buah hati kami, Lita sudah beranjak besar. Setelah melalu Psikotes yang cukup serius dan bersaing dengan 96 anak, akhirnya Lita bersama 71 anak yg lain diterima bersekolah di SD Model milik Pemerintah Kabupaten Sleman. Kami bersyukur karena SD ini termasuk SD yang bagus dengan kualitas guru dan siswa yang kreatif dan berprestasi dengan kurikulum SBI.

Semoga Tuhan merestui perjuangan kami.....

Saturday, April 16, 2011

Monday, March 14, 2011

Lita wants to be a vet

Lita memang sudah terobsesi dengan hewan sejak dulu. Diantara banyak hal, yang paling menarik perhatiannya adalah binatang. Lita betah berlama-lama bermain dengan binatang, baik itu anjing, kucing, kura-kura, ayam dan sebagainya.

Belakangan, Lita juga senang bermain dengan reptil yang berbahaya seperti ular. Ketika ditanya apakah Lita tidak takut pada ular, dia menjawab "how come a vet is scared of a snake". Memang aneh kalau seorang dokter hewan takut pada ular. Syukurlah saya dan Asti tidak ada masalah jika Lita dekat dengan segala binatang itu. Kami bahkan turut menikmati keberanian Lita. Selain mengasah kepeduliannya pada binatang, kami juga mengasah kemampuannya untuk menceritakan binatang dalam bentuk laporan pandangan mata yang direkam dalam bentuk video. Ini alah video saat Lita bermain dengan ular di Plaza Ambarukmo di Jogja. Video lain bisa dilihat di koleksi video keluarga.


Lita minta maaf


Sore Ini lita kena marah mbah karena ulahnya yang aneh-aneh. Diapun menyatakan perasaannya denga membuat kartu SENDIRI. Masih ada sih salah2 nya tapi mbah sangat tersentuh :)

Saturday, February 26, 2011

Lita's first presentation in school

PRINCE REGNA AND PRINCESS LITA


(Music)
Parents: Once upon a time there were 7 princesses and 4 prince who lived in the castle. Their names were Princess Lita, Kayla, Via, Queena, Sekar, Abel, Laras, Eksa, Prince Regna, Rama, Paco and Winnie.
(Music)
Parents: One day, there were going to have a wedding party. Suddenly there was a big storm coming to the castle, but the storm wasn't real.
(Music)
Lita: Aaaaaaaa..... Aaaaaaaa
Parents: It was two giant dragons came to ruin the wedding party. Miss Henny and miss Venty were riding on the dragons. They attacked all of the people in the castle.
Lita: Aaaaaaa..... Aaaaaaaa
(Music)
Lita: Help.... Help
Parents: Prince Regna protected princess Lita with his sword from the dragons attack.
Lita: "I will protect you princess Lita"
Parents: meanwhile prince Paco climbed up to the top of the tree to fight with the other dragon. Prince Rama was worried about Paco. He asked Paco to get down.
Lita: "Prince Paco get down..... get down"
(Music)
Parents: the fire came out from the angry dragon's mouth. Why were they angry? It was because the princess and prince didn't invite the dragons to the wedding party. All of the princess were scared.
Lita: hiiiiiiiiii........ (scream)
(Music)
Parents: Princess Lita Suddenly had an idea and shouted out.
Lita: Stop guys..... we don't need to fight. Look miss henny and miss venty are so worried about us. How about if we ask the dragons to join our party?
Lita: "It's a good idea princess Lita" said Regna
Parents: All of the prince and princesses, miss henny, miss venty and the dragons were agreed with Lita
Lita: yeeeeeee..... (Happy)
Lita: Making friends is fun, Sharing is caring
Parents: Finally, they make friends and the party was safe. THE END

Itu adalah make up story yg dibuatnya 3 minggu lalu. Setelah diserahkan scriptnya ke guru, Lita berlatih dan membuat pupet utk karakter ceritanya di sekolah.

Comment ibu: Lita braves, loves to make stories, creative and happy :)

Wednesday, February 16, 2011

Berenang dengan Michael

Kami mengenal Michael di Australia sejak 2003. Dia adalah sahabat yang sangat baik buat kami. Jika dia membantu, bantuannya akan total untuk kami. Saat ini Michael mendapat kesempatan liburan sambil sekolah di Jogja. Diapun mengundang kami ke hotelnya tempat dia tinggal untuk berenang. Lita sangat menikmati tentu saja karena Michael juga menyediakan chips kesukaannya.
Thanks for the host Michael....