Rumah maya Keluarga Arsana
Rumah bagi Andi (aka: Madé) dan Asti (aka: Ketut) dan Lita untuk berbagi cerita dengan sahabat mereka.
Selamat datang!
Thursday, October 11, 2007
Lita potong rambut
Bertemu Pak Marty
Nampaknya belakangan ini hanya Ayah yang rajin nulis ya, ibu sibuk sekali he he he. Ok no worries, silahkan Ibu selesaikan dulu kerjaannya, setelah itu sempatkan posting ya.Hari ini sangat istimewa bagi ayah karena sempat bertemu Bapak Marty Natalegawa, Dutebesar Luar Biasa Indonesia untuk Perwakilan Tetap kita di PBB. Bapak Marty ini istimewa karena beliau adalah pejabat tinggi plus karena beliau mencapai jabatan tinggi itu di usia yang sangat amat muda. Pak Marty sudah mejabat Duta Besar untuk UK di usia 43 dan sekarang beliau baru berusia 44 tahun. Sangat muda untuk ukuran seorang Duta Besar. Oleh karenanya, tentu tidak berlebihan kalau ayah bilang bahwa bertemu Pak Marty adalah keistimewaan.
Ibu dan Lita mau tahu bagaimana awal mulanya?
Suatu saat ayah berada di Sekretariat PBB di 1st Avenue, Manhattan, untuk mengantar seorang kawan dari Filipina membuka rekening bank. Ketika menunggu, tiba-tiba terdengar seseorang berbicara di telepon dalam Bahasa Indonesia. Tidak terlalu umum mendengar orang bebahasa Indonesia di Gedung PBB, jadi ayah perhatikan. Ternyata orang itu adalah Pak Marty. Tentu saja ayah tahu karena beliau sangat populer di koran dan TV.
Ayah putuskan untuk menyapa saat beliau sudah selesai menelpun. Terjadilah pembicaraan, ayah berbasa basi sejenak dan beliau bertanya apa yang ayah lakukan di New York. Ayahpun kemudian menjelaskan. Beliau sangat tertarik karena topik batas maritim dan hukum laut sangat terkait dengan posisinya. Tanpa berpanjang-panjang beliau mengundang ayah untuk datang ke kantornya. "Silahkan kotak sekretaris saya untuk mengatur waktu pertemuan", begitu katanya.
Hari ini ayah betemu beliau, didampingi Pak Adam, staff hukumnya. Pertemuan sangat baik, juga produktif. Terlihat Pak Marty memang seorang diplomat yang progressif. Belaiau anti birokrasi yang berbelit-belit itu terlihat dari komentarnya. Pak Marty juga seorang pendengar yang baik.
Thursday, October 04, 2007
Kantor, Rumah dan Makanan
Ini adalah sebuah cerita ringan tentang aktivitas sehari-hari di New York. Beberapa hari yang lalu ada acara makan siang bersama hampir seluruh karyawan DOALOS (Office of Legal Affairs) di sebuah restoran Italia di jalan 2nd Ave. tidak jauh dari kantor PBB (UN Plaza). Ini katanya adalah tradisi untuk menjaga suasana akrab sesama karyawan.
Layaknya makan di restoran barat, pilih sendiri dan bayar sendiri tentu saja. Menunya cukup 'aneh', bagi orang Bali yang biasa makan lawar. Demi sosialisasi, toh tidak ada salahnya dicoba. Seorang kawan berkebangsaan Italia bergurau, "you have to tell us the famous Indonesian Restaurant in Manhattan so we can go there someday". Singkat kata, makan siang waktu itu sangat berkesan. Semua orang menikmati dan semuanya lepas sejenak dari kesibukan kerja.
Cerita lain seputar hidup di sini adalah perihal aktivitas kantor. Berada di Gedung PBB memang sebuah priviledge. Setiap hari bergaul dengan orang dari berbagai negara dan mendengar isu yang dulunya hanya dibaca dari buku dan korang. Dua hari yang lalu sempat mengikuti sidang resolusi hukum laut bersama DOALOS dan delegasi beberapa negara. Sangat berkesan menyaksikan debat berkualitas para peserta sidang. "Yes, Canada." atau "Thank you China" begitu koordinator ketika mempersilahkan atau menanggapi argumentasi dari berbagai delegasi. Hukum yang mempengaruhi planet bumi memang sedang dibicarakan di ruangan ini, saya beruntung ada di dalamnya. Sayang sekali, sebagai fellow saya tidak memilki hak bicara karena tidak bisa mewakili Indonesia.Untuk urusan makan, di daerah Queens ada banyak restoran China, terutama di daerah Broadway. Makanannya enak dan tidak mahal. Selain itu ada juga toko Asian Groceries tempat membeli bumbu dan bahan makanan Asia termasuk Indomie dari Indonesia. Semuanya mudah dan dengan harga yang masih terjangkau. Setidaknya terjangkau oleh seorang UN-Nippon Fellow :)
Yang agak mengganggu adalah tiap hari harus berpakaian kemeja dan berdasi kalau di kantor. Konsekuensinya, harus nyetrika baju setiap minggu. Ini yang sudah lama tidak dilakukan, mungkin sejak 3 tahun lalu. Di sini, mencuci dilakukan di laundri bersama menggunakan coin. Jadi teringat film 40 nights 40 days ketika Matt dan Erica bertemu pertama kali di Public Laundry. Tentu saja di sini tidak ada Erica walaupun Ayah juga seperti Matt sedang 'puasa' 40 hari 40 malam [bahkan lebih] he he he.Layaknya orang udik yang tumben ke gedung PBB, aktivitas foto-masih saja berlangsung. Tidak tega rasanya melewatkan setiap sudut tempat dan kejadian di sini tanpa mengabadikannya. Setiap titik rasanya layak untuk dipotret dan semuanya indah. Sayang tidak sempat belajar motret yang baik sehingga hasilnya pun standar saja :(
Friday, September 28, 2007
Minggu pertama di New York
Saat ini ayah sudah berada di New York setelah menempuh 24 jam perjalanan. Ayah baru sempat bercerita karena masih penyesuaian dan juga Jet Lag yang agak parah karena perbedaan waktu 11 jam dengan Jakarta. Ayah di sini baik-baik saja. Semua berjalan dengan baik. Ayah sampai di US tanggal 22 September malam, mendarat pertama kali di Minnesota dan melanjutkan perjalanan ke New York malam itu juga.
dengan Audio Tour juga Ellis Island, pulau kecil yang jaman dulu dijadikan pintu gerbang imigran yang datang ke Amerika. Kini pulau itu menjadi musium. Seru sekali menyaksikan bagaimana mereka memperlakukan imigran jaman dulu. Pulau ini merupakan tempat persinggahan pertama 12-an juta migran yang masuk ke Amerika. "A nation of Migrants" begitu JFK menyebut Amerika.
Akhirnya ayah bertemu dengan program adviser, Francois Bailet, orang Perancis. Dia baik sekali. Bersama dia, ada juga Sampan Panjarat, fellow dari Thailand. Dia seorang cewek yang kerja di departemen perikanan Thailand. Dia adalah fellow pertama yang sudah sampai di UN tanggal 15 September lalu. Orangnya baik, sudah 34-an tahun umurnya.
Hollywood :))
Hari ini (27-09) juga berjalan lancar tidak ada masalah. Ayah sambil menikmati New York tetap menyelesaikan laporan. Oh ya, setiap hari ayah harus menggunakan jas lengkap di sini. Orang-orang sangat rapi. Beda jauh dengan waktu di Australia yang jauh dari kesan formal.
Itu sementara cerita ayah Bu. Ayah akan sambung terus dengan cerita seru lainnya dan foto-foto tentu saja. Salam sayang dari Ayah untuk Lita.
Friday, September 21, 2007
Foto studio
Giliran Lita bergaya sendiri, tegang juga ternyata... ibu ampe jungkir balik ngarahin gaya di depannya gak juga berhasil. Hehe...
Friday, September 07, 2007
Sepuluh tahun pertama
Sepuluh tahun yang lalu, tapatnya tanggal 7 September 1997, kami bertemu untuk pertama kali. Ketika itu saya adalah mahasiswa tingkat dua dan Asti baru saja memulai perjalanannya di UGM. Begitulah seperti bisa ditebak, seorang senior tanggung memanfaatkan posisinya mendekati sang adik bak pahlawan kesiangan :) Asti yang masih belum menemukan jalannya, mungkin seperti mendapat pahlawan atau setidaknya teman dalam menjalani hari-hari. Demikianlah, singkat kata kami bersepakat menjalani hari-hari bersama. Kini hari itu telah berlalu selama sepuluh tahun. Waktu memang seperti terbang dan kami telah melewati banyak hal.Pada peringatan sepuluh tahun pertama ini kami bahkan juga merayakan ulang tahun ke-2 putri kami, Lita. Alangkah banyaknya yang sudah terjadi. Dimulai dari pertemuan kecil yang dihiasi malu-malu di Balairung UGM, kini sudah ada seorang Lita. Jika tidak ikut menikmati, kejadiannya memang terasa sangat cepat. Lebih jauh lagi, banyak yang barangkali tidak bisa menebak apa saja yang sudah terjadi. Biarkan saya bercerita sedikit tentang sepuluh tahun ini.
15 November 1997 adalah saat pertemuan itu diresmikan jauh di Pura Mandaragiri, Gunung Semeru sana. Layaknya dua anak muda, hari-hari dihiasi keindahan dan juga pasti duka. Saya pribadi banyak belajar arti kesabaran dan menjadi sedikit lebih sabar karena Asti, itu pasti. Selama berpacaran, kami adalah dua anak muda biasa. Ngapel malam minggu, saya rajin memberi bunga mawar, naik motor malam minggu hingga agak larut, makan di angkringan, main di Kaliurang, menghabiskan waktu di kos saya dan lain-lain termasuk bolos kuliah :)
Tahun 2001, ketika cinta berumur empat tahun saya memulai karir di dunia kerja, berpisah sementara ketika saya ada di Malang, Surabaya dan Jakarta hingga akhir 2002. Waktu juga yang membuat kami bersama lagi di Jogja awal 2003 ketika saya memutuskan jadi dosen di UGM.
14 April 2003, pernikahan adalah tanda kesepakatan kami sudah final dan mengikat ketika cinta berumur enam tahun. Ritual yang bagi kami sangat berkesan adalah buah tangan orang tua di Bali. Tidak akan terbalas. Awal tahun 2004 kami mengembara ke negeri Kangguru karena saya harus memperdalam kanuragan. September 2005, ketika kebersamaan sudah 8 tahun, Lita lahir dengan selamat disaksikan keempat grandparents-nya di sebuah rumah sakit di Sydney. Pengalaman yang tak akan terlupa.
Selamat ulang tahun cinta, satu dasawarsa adalah saat yang baik menilai pelajaran.
Saturday, September 01, 2007
Buku Baru: Batas Maritim Antarnegara
Dear Ibu dan Lita,Buku ini diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press dan mulai beredar di pasar awal Septermber 2007. Buku ini penting bagi mereka yang menekuni batas maritim baik dari segi teknis/geodetis maupun dari segi hukum/legal. Kalau Ibu dan Lita punya teman yang berkecimpung di bidang ini, boleh lah dipromosikan ya.
Oh ya, masih ingat sama beberapa kasus yang terjadi belakangan ini seperti Sipadan dan Ligitan, Ambalat, Penembakan nelayan di Selat Malaka, dll. Buku ini akan memberi pemahaman yang lebih baik.
Kalau mau tahu ringkasan dan daftar isi lengkap, silakan simak di sini.
I Love you.
Ayah
Saturday, August 25, 2007
Trend 2007
Sunday, August 19, 2007
Berenang
Saturday, August 18, 2007
17-an di sekolah
Sunday, August 12, 2007
Liburan di Bali
Kegiatan di Bali cukup padat, tanggal 8 sampai di Tabanan, tanggal 9 ke Singaraja ada persembahyangan, tanggal 10 ayah kunjungan ke TRISMA (SMA 3 Denpasar), tanggal 11 ada kunjungan dari Bli Mul dan keluarga ke Tabanan dan akhirnya tanggal 12 sudah berangkat lagi ke Bekasi. Berikut beberapa foto kenangan selama liburan.

Waktu di bandara, ada gadis Bali berpakaian adat menjemput tamu entah dari mana. Sebelum tamunya datang, Lita dan ayah memanfaatkan kesempatan untuk ambil gambar. Ya anggap saja ada sambutan untuk yang baru datang dari Sydney dan Jakarta.
Ini suasana di Sanggah Singaraja, pura keluarga mbah Kakung di Br. Tegal. Setiap pulang ke Bali kami memang berusaha menyempatkan datang untuk sembahyang. Selain sembahyang, yang terpenting tentunya adalah sima krama, silaturahmi bersama keluarga untuk menjaga tali persaudaraan.
Ini suasana setelah sembahyang, semuanya menunggu mobil yang disupiri sama Om Upik. Om Upik tidak ikut sembahyang karena harus mengantar tante Dian menemui keluarganya. Ssst.. Om Upik dan Tante Dian ini kelihatan seperti orang pacaran lo he he he. Dunia katanya milik berdua, sedangkan yang lainya ngontrak :(
Diah, Lita dan Wulan berpose di sanggah Mak Diah di Denpasar. Diah hebat lo, dapat juara satu lagi. Ayah sudah ngasih baju buat Diah, Wulan, dan Komang. Ayah juga janji sama Diah, kalau dapat juara satu lagi dapat hadiah main ke Jogja gratis.Thursday, August 02, 2007
Rindu
Sunday, July 29, 2007
Tuesday, July 24, 2007
Persiapan pulang
Dear Ibu dan Lita di tanah air,
Limabelas hari lagi ayah pulang ke tanah air. Hampir semuanya sudah disiapkan, kecuali bersih-bersih rumah sebelum ditinggalkan. Saat ini ayah lagi mengejar deadline laporan supaya ada yang ditinggalkan sebelum pulang. Clive sudah nanyakan beberapa kali he he he Ayah memang cukup asik dengan hal-hal lain selama ini. Tapi jangan khawatir, masih seputar menulis dan publikasi. Selama di Australia, Ayah sudah punya lebih dari 10 publikasi lo he he
Oh ya, ayah akan ke Bali tanggal 8 Agustus, kita ketemu di Bali ya. Tanggal 12 ke Jakarta dan 14 ke KL untuk konferensi. Tanggal 17 pulang ke Jkt, merayakan kemerdekaan di Air Asia he he. Setelah itu ayah akan ada di Bakosurtanal selama seminggu dan selanjutnya main ke UGM selama seminggu juga. Kalau tidak ada halangan ayah balik ke Aussie tanggal 14 September, 2 hari setelah Lita ulang tahun. Tapi ayah gak janji karena nampaknya akan ada kunjungan dari UN ke Australia sehingga ayah harus ada di tempat. Kita lihat saja nanti.
Oh ya, akhirnya perjalanan ayah ini dibiayai penuh oleh ANCORS, tiket pesawat dan biaya konferensi sudah dikasih kok.. senangnya bisa ketemu anak istri gratis he he he.
Berita bagus lainnya, rumahnya ada yang take over jadi urusannya mudah. Internet, listrik dan telepon juga di take over sekalian jadi ayah gak ada beban apa-apa dan bond bisa kembali tanpa hambatan. Syukurlah banyak diberi kemudahan. Makasih ya doanya.
Ok segitu dulu update saat ini, tetap semangat ya :)
I love you.
Ayah
Sunday, July 22, 2007
Senyum mereka semangatku
Ketika ibu sampai depan rumah, anak2 segera berhamburan menyambut kedatangan ibu. Lita sampai lari keluar rumah memanggil ibu.
Langsung ibu keluarkan oleh2 yg ibu beli di pesawat Sriwijaya Air. Untuk Nanda, sebuah pesawat rakitan. Untuk gita dan Lita sepasang glitter. Gembiranya mereka, rindu ibu pun
terobati melihat mereka tersenyum. Tidur siang
ketiganya minta tidur ama ibu... yang pada akhirnya Gita dan Lita tidur di kiri kanan ibu.... saat2 ini yg ibu rindukan.
Lita ternyata sudah mulai mengerti posisi ayah dan ibu. Waktu ditanya ibu kemana kemaren dek? " Keja ke Orontalo", ayah kemana dek? "Keja uga" Untuk apa kerja? "Beli cucu buat dek Ita".... Jawaban polos Lita yang buat ibu bahagia.
I love U honey,
Ibu
Thursday, July 12, 2007
My place in Wollongong at Wikimapia
Wednesday, July 11, 2007
ULANG TAHUN IBU KE 28
Minggu, 8 Juli 2007 adalah tepatnya ulang tahun ibu. Ibu terbangun mendengar suara sms dari ayah dan mbah, keduanya mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Belum sempat ibu jawab sms, keduanya menelpon... senang hati ibu walaupun jauh dihati ibu terasa sepi... (Lita and the gank baru akan pulang dari Bali sore hari) Tak apa... itulah hidup, ibu gak boleh sedih. Ibu naik sepeda berencana ke rumah Pakde Ari, berharap ada yg mengucapkan Ultah disana, sambil beli kue ultah utk diri ibu sendiri dg bertulis : "Happy B'day Ibu Tersayang" :)
Sayang, ternyata tak satupun di rumah pak De ingat ulangtahun ibu, so ibu pulang tanpa ucapan. Sedikit sedih sih, but never mind... Ibu pulang sambil ambil kue langsung ke rumah... didepan rumah Papa Nanda pun ternyata tidak tahu ibu ultah, sampai akhirnya ibu menunjukkan kue ultah ibu... Never mind... Tapi ada satu lagi yg melupakan ultah ibu, yaitu mama nanda, sampai akhirnya ibu harus bilang klo ada yg ultah... never mind.... I Know everybody has their own life :)
Yang penting dan membahagiakan adalah ketika anak2ku bisa ikut tiup lilin bersama... Terharu ibu setelah 2 minggu berpisah dg anak2 baru terasa mereka sangat berarti buat ibu.
Senin, 9 Juli 2007, pagi seperti biasa ibu mulai hari2 dengan cek email... surprise!!! sekitar 10 email lebih muncul dengan subject happy b'day... Paulien, mbak Maria, mBak Amalia, mBak Wulan, Bli Ode, mBak Dana, Bli Kusir, Bli Warsa, mas Ari, mas Wawan, Bli Tut, Atik, Bli Sujata. Ada juga yang menelpon dan sms, mas Bayu, Melna, mBok Iluh. Hampir setengah hari ibu disibukkan oleh menjawab email2 itu. Dalang dibalik itu semua adalah siapa lagi klo bukan ayah tercinta... Makasih ayah.
Selasa, 10 Juli 2007, seperti hari biasa gak beda. Cuman ada kejutan yg datang disore hari, kiriman bunga dari ayah... "Hari ini ada cinta, seperti hari2 lalu, Selamat ulang tahun"... Makasih ayah... Romantisme yang biasanya sudah dilupakan orang, tapi sangat bermakna dalam menjaga cinta. Temen2 banyak yg iri lho... mgkn mereka akan mengkopi metode ayah... hehehe
Sunday, July 08, 2007
Touching moment
Minggu, 8 Juli 2008 adalah hari terakhir Lita liburan di Bali. Saatnya terbang kembali ke Bekasi menuju pangkuan Ibu.
Inilah saat-saat yang paling menyentuh bagi keluarga. Semua orang rumah melepas kepergian Lita di gapura, menyaksikan Lita yang sudah ada di mobil. Pekak dan Ninik mengantar Lita dan Kadek menuju Bandara. Sebelum masuk mobil Lita mencium semua orang untuk pamitan. Semua orang tanpa kecuali. Setelah masuk mobil, Lita pun melambaikan tangan tidak saja kepada keluarga yang menyaksikan penuh haru di gapura tetapi juga kepada para tetangga dekat yang menyaksikan dari depan rumah mereka. Lita melambaikan tangan ke kumpulan orang di sebelah kiri dan kanannya membuat semua orang tersenyum haru. Lita memang anak yang istimewa.
Selamat datang di pangkuan ibu ya...
Saturday, July 07, 2007
Lita dan anak entok
Kisah-kisah kecil selama di desa, selalu menarik bagi Lita. Salah satunya adalah cerita tentang anak entok (mentok) Pak Mang. Beberapa hari yang lalu telur-telur entoknya telah menetas dan kini Pak Mang memiliki beberapa ekor entok kecil yang tentu saja lucu-lucu. Pak Mang adalah kakaknya Pekak yang tinggal satu lingkungan rumah. Adalah hal biasa di Bali kalau ada beberapa keluarta tinggal dalam satu lingkungan rumah dengan satu Pura Keluarga (sanggah) tetapi masing-masing memiliki bangunan rumah sendiri. Satu lingkungan rumah ini ditandai dengan satu gapura dan satu sanggah.
Lita sangat menikmati bermain-main dengan anak entok. Bagi seorang Lita yang bahkan lahir di Sydney, melihat entok di alam nyata saja adalah pengalaman menakjubkan. Tentunya semua menjadi lebih istimewa lagi karena kini Lita bisa membelai-belai anak entok itu. Lita, kata Niniknya, sangat girang membelai anak-entok yang baru berumur beberapa hari. Bulu-bulunya pasti sangat halus dengan suara kikik kikik yang terdengar halus dari mulutnya. Semua itu membuat Lita semakin excitied.
Yang menyenangkan bagi Pak Mang dan semua orang di rumah termasuk Kak Ayan dan Kak Obo adalah Lita yang tidak takut dengan siapapun. Lita selalu cepat akrab dengan mereka, selalu tertarik dengan aktivitas bernuansa desa dan selalu mau kalau diajak melihat atau bahkan melakukan kegiatan itu. Lita tidak jarang minta ikut ke sawah ketika Kak Obo berangkat dengan cangkulnya. Begitu juga ketika Kan Ayan pergi melihat tanaman pertaniannya. Semua orang merasa Lita betah di rumah dan menjadi bagian dari keluarga. Awalnya banyak yang menduga Lita akan jadi anak kota, takut kotor, takut ayam, takut entok dan tidak mau dekat dengan babi yang bau. Ternyata anggapan itu salah. Lita sangat cepat dekat dengan hal-hal alami seperti itu. Sepertinya naluri alamiahnya sangat kuat.
Ayah jadi ingat masa kecil dulu ketika ayah memelihara berbagai jenis binatang dan dibiarkan berkeliaran di sekitar rumah. Mungkin tidak banyak orang ketika itu berhasil membuat burung emprit menjadi jinak, tekukur yang bisa datang ketika dipanggil, tupai yang berumah di gapura dan selalu menyambut ayah ketika pulang sekolah dan seekor kucing yang dengan setia berburu kadal di sawah sambil mengantarkan ayah mandi di pancuran. Cerita itu seperti bergema dan gemanya sampai ke Lita. Lita anak yang istimewa, seorang ksatria perempuan yang mencintai binatang...
Friday, July 06, 2007
Lita di desa
Sebelumnya Ibu sudah cerita kalau Lita ada di Bali sama Ninik dan Pekak nya. Biarpun Lita ada di Bali, kami selalu memantau perkembangannya. Bedanya, kini tidak bisa dengan webcam, harus lewat telepon he he he. Masih untung di desa ada telepon. Hal lain lagi, cerita seputar Lita di desa tidak akan dilengkapi foto karena memang di desa tidak ada kamera digital. Jangankan kamera digital, kamera analog saja tidak ada he he he. Ini beberapa cerita seputar Lita di desa.
Takut Anjing
Yang jadi ciri khas suasana desa di Bali adalah anjing yang berkeliaran dengan bebas. Tentu saja ini aneh sekali bagi Lita. Lita paling takut dengan anjing dan selalu teriak kalau didekati anjing. Padahal, menghindari anjing di Bali sama dengan menghindari sepeda motor. Tidak mungkin tidak bertemu. Saya bilang, populasi anjing di kampung sama dengan populasi motor. Setiap keluarga punya minimal satu :)
Setelah seminggu lebih di desa, Lita kini sudah terbiasa dengan anjing dan bahkan bisa tidur ditemani lolongan anjing di malam hari.
Lita degeng
Degeng itu artinya well-behave, tenang dan tidak rewel. Niniknya bilang, Lita bahkan sama sekali tidak pernah nangis. Nangis dua kali malam-malam karena bermimpi, sisanya happy. Kalau dulu Lita digigit nyamuk dan menimbulkan bekas, kali ini tidak lagi. Mungkin Lita sudah kebal :)
Lita ke sawah
Pekak-nya memang seorang petani, jadi cucunya pun harus mengenal pertanian. Lita paling senang diajak ke sawah melihat tanamannya Pekak. Pagi-pagi sudah diajak ke sawah atau ke ladang melihat tanaman. Bagi Lita, ini tentu saja pengalaman yang sangat berkesan. Mana pernah Lita melihat padi dan tanaman ketela rambat atau labu. De desa semuanya ada dan disaksikan dengan gratis. Lita perlu melihat kenyataan itu agar tahu dari mana ayahnya berasal dan dengan suasana apa ayahnya dibesarkan.
Lita mandi bola
Ini satu kegiatan yang sebenarnya tidak mencerminkan suasana desa. Tetapi niniknya kasihan karena sehari-hari Lita hanya bermain dengan ayam, itik, entok, anjing dan padi di sawah. Pengen juga sekali-sekali mengingatkan Lita dengan mainan yang biasa dilakukan di Jakarta dan Jogja, yaitu mandi bola he he he. Masih untung rumah tidak terlalu jauh dari Hardy's swalayan yang ada fasilitas mandi bolanya. Jadilah Lita menikmati juga permainan yang biasa dilakukannnya. Kalau saya bilang, ngajak Lita mandi bola sebenarnya tidak tepat saat berada di desa. Lebih baik kalau diajak mandi di sungai, atau di pancuran yang tidak jauh dari rumah. Tapi tidak apa-apa, Ninik Pekak-nya biar senang.
Lita banyak teman
Namanya juga desa, banyak anak-anak dan semua orang saling kenal. Setiap hari Lita menerima kunjungan dari teman-teman kecilnya yang betah di rumah hingga malam hari. Lita mulai berkomunikasi dengan bahasa anak-anak desa, sangat menyenangkan.
Lita semakin pintar bicara
Sejak di desa, Lita banyak berinteraksi dengan anak-anak kecil yang beragam sifatnya. Ini membuatnya semakin pintar biacara. Lita sudah bisa menirukan hampir semua kata-kata yang diucapkan Pekak atau Ninik. Setiap kali ditelepon ayah atau ibu, Lita selalu unjuk gigi dengan kosa kata barunya.
Begitulah Lita di desa, mungkin ibu punya cerita lain seputar Lita selama dia Bali.
Oh ya, tanggal 8 Juli Lita akan kembali ke pangkuan ibu di Bekasi. :)
