Thursday, October 11, 2007

Lita potong rambut

Setelah sekian lama ibu bercita-cita memanjangkan rambut Lita akan terkesan girly, akhirnya ibu menyerah pada keputusan utk memotong rambut. Ibu perhatikan cita-cita ibu telah menyiksa Lita karena kegerahan....
Saat ibu bawa Lita ke salon, tanpa menangis sedikitpun Lita duduk manis di kursi salon dengan dibungkus handuk dan dilapisi kain yang menutup badannya. Dengan patuh dia ikuti perintah sang hairdresser... liat kaca dek, merem dek, jangan gerak dek, liat ibu dek... sambil kres kres kres... Sang hairdresser agak kebingungan liat alur rambut Lita yang unik... Alhasil Lita tampil dengan kids style, alias potong pendek hehe.... Lita pun nampak happy dengan kesegaran barunya, no more garuk-garuk :)

Ibu sadar memang kita tidak boleh memaksakan keinginan/cita-cita kita pada anak. Berikan kesempatan utk memilih dan memutuskan cita-citanya sendiri as long as she happy and responsible for her decision. ILU Lita...

Bertemu Pak Marty

Dear Ibu, Lita dan pembaca :)

Nampaknya belakangan ini hanya Ayah yang rajin nulis ya, ibu sibuk sekali he he he. Ok no worries, silahkan Ibu selesaikan dulu kerjaannya, setelah itu sempatkan posting ya.

Hari ini sangat istimewa bagi ayah karena sempat bertemu Bapak Marty Natalegawa, Dutebesar Luar Biasa Indonesia untuk Perwakilan Tetap kita di PBB. Bapak Marty ini istimewa karena beliau adalah pejabat tinggi plus karena beliau mencapai jabatan tinggi itu di usia yang sangat amat muda. Pak Marty sudah mejabat Duta Besar untuk UK di usia 43 dan sekarang beliau baru berusia 44 tahun. Sangat muda untuk ukuran seorang Duta Besar. Oleh karenanya, tentu tidak berlebihan kalau ayah bilang bahwa bertemu Pak Marty adalah keistimewaan.

Ibu dan Lita mau tahu bagaimana awal mulanya?
Suatu saat ayah berada di Sekretariat PBB di 1st Avenue, Manhattan, untuk mengantar seorang kawan dari Filipina membuka rekening bank. Ketika menunggu, tiba-tiba terdengar seseorang berbicara di telepon dalam Bahasa Indonesia. Tidak terlalu umum mendengar orang bebahasa Indonesia di Gedung PBB, jadi ayah perhatikan. Ternyata orang itu adalah Pak Marty. Tentu saja ayah tahu karena beliau sangat populer di koran dan TV.

Ayah putuskan untuk menyapa saat beliau sudah selesai menelpun. Terjadilah pembicaraan, ayah berbasa basi sejenak dan beliau bertanya apa yang ayah lakukan di New York. Ayahpun kemudian menjelaskan. Beliau sangat tertarik karena topik batas maritim dan hukum laut sangat terkait dengan posisinya. Tanpa berpanjang-panjang beliau mengundang ayah untuk datang ke kantornya. "Silahkan kotak sekretaris saya untuk mengatur waktu pertemuan", begitu katanya.

Hari ini ayah betemu beliau, didampingi Pak Adam, staff hukumnya. Pertemuan sangat baik, juga produktif. Terlihat Pak Marty memang seorang diplomat yang progressif. Belaiau anti birokrasi yang berbelit-belit itu terlihat dari komentarnya. Pak Marty juga seorang pendengar yang baik.
Acara ditutup dengan buka bersama. Ayah tentu saja termasuk orang yang ikut saur, tetap makan siang dan selalu semangat untuk buka :) Ayah juga berkenalan dengan banyak diplomat di PTRI, termasuk dengan Bapak Putu, penasihat militer PTRI yang adalah ahli rudal. Beliau juga sangat bersahabat, seorang tentara yang saintis.

Thursday, October 04, 2007

Kantor, Rumah dan Makanan

Dear Ibu, Lita dan pengunjung :)

Ini adalah sebuah cerita ringan tentang aktivitas sehari-hari di New York. Beberapa hari yang lalu ada acara makan siang bersama hampir seluruh karyawan DOALOS (Office of Legal Affairs) di sebuah restoran Italia di jalan 2nd Ave. tidak jauh dari kantor PBB (UN Plaza). Ini katanya adalah tradisi untuk menjaga suasana akrab sesama karyawan.

Layaknya makan di restoran barat, pilih sendiri dan bayar sendiri tentu saja. Menunya cukup 'aneh', bagi orang Bali yang biasa makan lawar. Demi sosialisasi, toh tidak ada salahnya dicoba. Seorang kawan berkebangsaan Italia bergurau, "you have to tell us the famous Indonesian Restaurant in Manhattan so we can go there someday". Singkat kata, makan siang waktu itu sangat berkesan. Semua orang menikmati dan semuanya lepas sejenak dari kesibukan kerja.

Cerita lain seputar hidup di sini adalah perihal aktivitas kantor. Berada di Gedung PBB memang sebuah priviledge. Setiap hari bergaul dengan orang dari berbagai negara dan mendengar isu yang dulunya hanya dibaca dari buku dan korang. Dua hari yang lalu sempat mengikuti sidang resolusi hukum laut bersama DOALOS dan delegasi beberapa negara. Sangat berkesan menyaksikan debat berkualitas para peserta sidang. "Yes, Canada." atau "Thank you China" begitu koordinator ketika mempersilahkan atau menanggapi argumentasi dari berbagai delegasi. Hukum yang mempengaruhi planet bumi memang sedang dibicarakan di ruangan ini, saya beruntung ada di dalamnya. Sayang sekali, sebagai fellow saya tidak memilki hak bicara karena tidak bisa mewakili Indonesia.

Untuk urusan makan, di daerah Queens ada banyak restoran China, terutama di daerah Broadway. Makanannya enak dan tidak mahal. Selain itu ada juga toko Asian Groceries tempat membeli bumbu dan bahan makanan Asia termasuk Indomie dari Indonesia. Semuanya mudah dan dengan harga yang masih terjangkau. Setidaknya terjangkau oleh seorang UN-Nippon Fellow :)

Yang agak mengganggu adalah tiap hari harus berpakaian kemeja dan berdasi kalau di kantor. Konsekuensinya, harus nyetrika baju setiap minggu. Ini yang sudah lama tidak dilakukan, mungkin sejak 3 tahun lalu. Di sini, mencuci dilakukan di laundri bersama menggunakan coin. Jadi teringat film 40 nights 40 days ketika Matt dan Erica bertemu pertama kali di Public Laundry. Tentu saja di sini tidak ada Erica walaupun Ayah juga seperti Matt sedang 'puasa' 40 hari 40 malam [bahkan lebih] he he he.

Layaknya orang udik yang tumben ke gedung PBB, aktivitas foto-masih saja berlangsung. Tidak tega rasanya melewatkan setiap sudut tempat dan kejadian di sini tanpa mengabadikannya. Setiap titik rasanya layak untuk dipotret dan semuanya indah. Sayang tidak sempat belajar motret yang baik sehingga hasilnya pun standar saja :(

Friday, September 28, 2007

Minggu pertama di New York

Dear Ibu dan Lita,

Saat ini ayah sudah berada di New York setelah menempuh 24 jam perjalanan. Ayah baru sempat bercerita karena masih penyesuaian dan juga Jet Lag yang agak parah karena perbedaan waktu 11 jam dengan Jakarta. Ayah di sini baik-baik saja. Semua berjalan dengan baik. Ayah sampai di US tanggal 22 September malam, mendarat pertama kali di Minnesota dan melanjutkan perjalanan ke New York malam itu juga.

Ayah tinggal di sebuah keluarga Indonesia, Pak Madjid namanya, mereka sangat baik. Ibunya (Bu Endang) juga sering membuatkan teh untuk ayah. Mereka memiliki dua anak, Fadjar (30) dan Farah (26). Pak Madjid kerja di KJRI dan Ibu Endang kerja di suatu tempat yang ayah gak tahu he he he. Pokoknya di Manhattan. Ayah diberi kamar yang sangat bagus, fully furnished lengkap dengan sarapannya he he he

Tanggal 23 pagi Ayah sudah menjelajah New York City sendiri hanya berbekal peta saja. Suasana di sini tidak jauh berbeda dengan sydney, cuma orangnya kelihatan lebih beragam. Banyak orang hitam dan latin di mana-mana. Kebersihan juga mirip2 dengan Sydney. Cuma suasana subway jauh lebih ramai nampaknya. Ayah beli tiket seharga 76 dolar untuk sebulan, bisa untuk bus dan kereta di NY. Sangat murah sebenarnya. Lebih murah dibandingkan di Sydney dan di sini tidak ada istilah konsesi atau bukan. Semua sama.

Tanggal 24 ayah mengunjungi Patung Liberty. Memang besar sekali dan benar-benar menjadi simbol Amerika. Orang antri berjubel untuk berkunjung. Liberty ini ada di sebuah pulau kecil yang sekarang dikenal sebagai Pulau Liberty. Untuk ke sana kita harus naik ferry. Dengan USD 17.50 Ayah sudah bisa mengunjungi Liberty Statue lengkap
dengan Audio Tour juga Ellis Island, pulau kecil yang jaman dulu dijadikan pintu gerbang imigran yang datang ke Amerika. Kini pulau itu menjadi musium. Seru sekali menyaksikan bagaimana mereka memperlakukan imigran jaman dulu. Pulau ini merupakan tempat persinggahan pertama 12-an juta migran yang masuk ke Amerika. "A nation of Migrants" begitu JFK menyebut Amerika.

Sayang sekali Ibu dan Lita tidak ada di sini, ayah menikmati semuanya sendiri. Tidak lengkap rasanya. Tapi suatu saat kita akan ke sini. Ayah yakin itu. Terpaksa berfoto sendiri dengan gaya seadanya he eh he.

Oh ya, di NY sekarang ini ada sidang PBB. Semua kepala negara seluruh dunia ada di sini terutama tanggal 23-26. Ketika masuk kantor pertama kali, ayah menyaksikan suasana seperti di film-film. Polisi New York (NYPD) dengan seragam seperti Will Smith dan Keanue Reaves berkeliaran di sekitar gedung PBB. Jalan ditutup dan semua diperiksa. Sedan, motor, truk bertulisan NYPD ada di mana-mana. Polisi berseragam dan bersenjata lengkap. Kalau kita melirik ke atas gedung-gedung tinggi, penembak jitu bertengger di tempat-tempat strategis siap dengan senapan canggihnya. Intinya, suasana sangat waspada.

Ayah sendiri mendapat sedikit kesulitan karena belum memiliki ID. Untunglah membawa surat sakti dari UN, sehingga boleh masuk. Lihat peta lokasi gedung PBB di sini

Akhirnya ayah bertemu dengan program adviser, Francois Bailet, orang Perancis. Dia baik sekali. Bersama dia, ada juga Sampan Panjarat, fellow dari Thailand. Dia seorang cewek yang kerja di departemen perikanan Thailand. Dia adalah fellow pertama yang sudah sampai di UN tanggal 15 September lalu. Orangnya baik, sudah 34-an tahun umurnya.

Akhirnya Ayah mengikuti beberapa proses orientasi termasuk berkenalan dengan orang-orang di Office of Legal Affairs PBB dan membuat ID tentu saja. Ayah juga sempat berkunjung ke Sekretariat PBB yang ada di seberang jalan (lihat peta tadi). Delegasi di seluruh dunia tumpah ruah di sana dan beraneka ragam rupa dan tingkahnya. Ini adalah pertemuan besar. Nasib Planet Bumi sedang dibicarakan di gedung ini. Luar biasa. SBY juga datang, tapi ayah tidak sempat bertemu.

Hari itu berjalan lancar, ayah sudah menyelesaikan semua urusan awal dan dapat ID. Kini bisa berjalan-jalan di sekitar UN tanpa perlu ditanya oleh NYPD. Kini dengan ID UN, ayah bahkan bisa berfoto bersama polisi itu termasuk bergaul dekat dengan anggota Secret Service yang berkeliaran di jalan. Begitulah, hidup terasa seperti di film
Hollywood :))

Tanggal 26, ayah masuk seperti biasa. Kini sudah mulai mikir tentang laporan. Sekali waktu sempat juga datang ke Sekretariat PBB untuk melihat suasana dan menyaksikan bagaimana NYPD menguasai jalan dan kawasan di sekitar UN office. Singkat kata, seru!

Hari ini (27-09) juga berjalan lancar tidak ada masalah. Ayah sambil menikmati New York tetap menyelesaikan laporan. Oh ya, setiap hari ayah harus menggunakan jas lengkap di sini. Orang-orang sangat rapi. Beda jauh dengan waktu di Australia yang jauh dari kesan formal.

Itu sementara cerita ayah Bu. Ayah akan sambung terus dengan cerita seru lainnya dan foto-foto tentu saja. Salam sayang dari Ayah untuk Lita.

Friday, September 21, 2007

Foto studio

Menjelang keberangkatan ayah ke New York selama 3 bulan, kita sempatkan utk mengabadikan kebersamaan kita di Studio Foto Hongkong. Selain itu kita juga cetak beberapa foto utk dikirim ke Jogja dan Bali.Dek Lita senyum dong.... rayu fotografernya supaya Lita senyum. Ternyata Lita belum bisa senyum natural seperti biasa klo ibu foto pake kamera di rumah. Alhasil bergaya dengan kepala miring aja.

Giliran Lita bergaya sendiri, tegang juga ternyata... ibu ampe jungkir balik ngarahin gaya di depannya gak juga berhasil. Hehe...

Senyum yang sedikit dipaksakan.... tapi tetep keliatan cantik anak ibu ini.


Akhirnya Lita ikutin juga gaya ibu di depan.

Friday, September 07, 2007

Sepuluh tahun pertama

Sepuluh tahun yang lalu, tapatnya tanggal 7 September 1997, kami bertemu untuk pertama kali. Ketika itu saya adalah mahasiswa tingkat dua dan Asti baru saja memulai perjalanannya di UGM. Begitulah seperti bisa ditebak, seorang senior tanggung memanfaatkan posisinya mendekati sang adik bak pahlawan kesiangan :) Asti yang masih belum menemukan jalannya, mungkin seperti mendapat pahlawan atau setidaknya teman dalam menjalani hari-hari. Demikianlah, singkat kata kami bersepakat menjalani hari-hari bersama. Kini hari itu telah berlalu selama sepuluh tahun. Waktu memang seperti terbang dan kami telah melewati banyak hal.

Pada peringatan sepuluh tahun pertama ini kami bahkan juga merayakan ulang tahun ke-2 putri kami, Lita. Alangkah banyaknya yang sudah terjadi. Dimulai dari pertemuan kecil yang dihiasi malu-malu di Balairung UGM, kini sudah ada seorang Lita. Jika tidak ikut menikmati, kejadiannya memang terasa sangat cepat. Lebih jauh lagi, banyak yang barangkali tidak bisa menebak apa saja yang sudah terjadi. Biarkan saya bercerita sedikit tentang sepuluh tahun ini.

15 November 1997 adalah saat pertemuan itu diresmikan jauh di Pura Mandaragiri, Gunung Semeru sana. Layaknya dua anak muda, hari-hari dihiasi keindahan dan juga pasti duka. Saya pribadi banyak belajar arti kesabaran dan menjadi sedikit lebih sabar karena Asti, itu pasti. Selama berpacaran, kami adalah dua anak muda biasa. Ngapel malam minggu, saya rajin memberi bunga mawar, naik motor malam minggu hingga agak larut, makan di angkringan, main di Kaliurang, menghabiskan waktu di kos saya dan lain-lain termasuk bolos kuliah :)

Tahun 2001, ketika cinta berumur empat tahun saya memulai karir di dunia kerja, berpisah sementara ketika saya ada di Malang, Surabaya dan Jakarta hingga akhir 2002. Waktu juga yang membuat kami bersama lagi di Jogja awal 2003 ketika saya memutuskan jadi dosen di UGM.

14 April 2003, pernikahan adalah tanda kesepakatan kami sudah final dan mengikat ketika cinta berumur enam tahun. Ritual yang bagi kami sangat berkesan adalah buah tangan orang tua di Bali. Tidak akan terbalas. Awal tahun 2004 kami mengembara ke negeri Kangguru karena saya harus memperdalam kanuragan. September 2005, ketika kebersamaan sudah 8 tahun, Lita lahir dengan selamat disaksikan keempat grandparents-nya di sebuah rumah sakit di Sydney. Pengalaman yang tak akan terlupa.

Awal 2006 kami pulang ke Jogja, memulai hidup baru yang tanpa sadar sebelumnya tidak sempat kami lakukan. Semuanya relatif semu sebelumnya, seperti tidak menginjak bumi karena terlalu banyak kemudahan yang diberikan oleh waktu. Waktu berlalu cepat, Asti praktik di klinik dan menjadi asisten peneliti di UGM. Saya sendiri asik dengan pekerjaan dosen. Di akhir 2006 kejutan muncul lagi. Saya diterima sebagai peneliti tamu atas dukungan UN-Nippon Foundation di Australia dan di US, sedangkan Asti diterima bekerja di WHO. Kami harus berpisah untuk beberapa saat. Bukan keputusan yang sangat baik, setidaknya kata beberapa kawan saya, tetapi toh harus kami lewati. Setidaknya hari ini semua sudah hampir selesai. Saya masih akan di US selama beberapa saat dan Asti akan segera menyelesaikan kontraknya dengan WHO. Tapi bukan berarti perjuangan selesai. Saya diam-diam telah menyiapkan kejutan lain yang mungkin akan membuat hidup kami seperti layang-layang lagi, saya tidak tahu.

Selamat ulang tahun cinta, satu dasawarsa adalah saat yang baik menilai pelajaran.

Saturday, September 01, 2007

Buku Baru: Batas Maritim Antarnegara

Dear Ibu dan Lita,
Ayah punya buku baru lo. Kali ini bukan tentang Google tetapi tentang keahlian ayah (padahal ayah sendiri belum ahli :) yaitu "Batas Maritim Antarnegara" atau "International Maritime Boundaries".

Buku ini diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press dan mulai beredar di pasar awal Septermber 2007. Buku ini penting bagi mereka yang menekuni batas maritim baik dari segi teknis/geodetis maupun dari segi hukum/legal. Kalau Ibu dan Lita punya teman yang berkecimpung di bidang ini, boleh lah dipromosikan ya.

Oh ya, masih ingat sama beberapa kasus yang terjadi belakangan ini seperti Sipadan dan Ligitan, Ambalat, Penembakan nelayan di Selat Malaka, dll. Buku ini akan memberi pemahaman yang lebih baik.

Kalau mau tahu ringkasan dan daftar isi lengkap, silakan simak di sini.

I Love you.
Ayah

Saturday, August 25, 2007

Trend 2007

Menjelang ulang tahun keduanya, Lita sudah nampak centilnya mengikuti gaya trend 2007... hehehe...
Baju U can c warna hijau dominan tahun ini, juga gaya ultraman menjadi trend di jatimulya.
Gaya rambut dengan poni rata dan pita kecil2 di kanan kiri nambah cantik Lita.
Apalagi dengan senyum manisnya itu :)
Masih tetap dengan warna hijau, tetap cocok dengan di padu kacamata warna pink, menambah kesan girly.
Gita-pun tambah cantik dengan kacamata barbie warna merah dengan gagang bunga2.
Pasaran dan ibu-ibukan pun menjadi trend permainan tahun 2007 di Jatimulya.

Sunday, August 19, 2007

Berenang

Berenang adalah salah satu kegiatan yg disukai Lita. Apalagi saat ini ditemani ayahnya.Ayah terharu melihat kemajuan Lita dan keberaniannya berenang.
Lita udah bisa berenang sendiri di kedalaman air 1.25 m. Bakatnya ini mulai muncul sekitar sebulan yg lalu. Namun sayang, ketahanan tubuh Lita kurang bagus kr setiap abis berenang langganan deh batuk pileknya.... hikkk

Saturday, August 18, 2007

17-an di sekolah

Peringatan 17 agustus di TK Binakarsa dimeriahkan juga dengan kehadiran si kembar mensupport kakak nanda utk mengikuti berbagai perlombaan.Dengan semangat 45, Lita dan Gita memakai seragam Australi oleh2 dari ayah.
Gita dengan setia mendampingi kakak nanda menghabiskan kerupuknya. Ini saat yg menyenangkan buat nanda karena hampir tidak pernah anak2 makan kerupuk di rumah hehehe....
Lita dan Gita mengasah kemampuan motoriknya dengan aktivitas panjat2.

Sunday, August 12, 2007

Liburan di Bali

Akhirnya keluarga yang terpisah hampir lima bulan dipertemukan juga oleh waktu. Seperti direncanakan kami bertemu di Bali sore hari tanggal 8 Agustus 2007 di Bandara Ngurah Rai. Rencananya Ibu dan Lita yang menunggu ayah dari Sydney tetapi ternyata AirAsia mengalami penundaan waktu terbang sehingga Ibu dan Lita terlambat. Akhirnya Ayah, Pekak, Ninik dan Om Upik yang menunggu di Bandara.

Kegiatan di Bali cukup padat, tanggal 8 sampai di Tabanan, tanggal 9 ke Singaraja ada persembahyangan, tanggal 10 ayah kunjungan ke TRISMA (SMA 3 Denpasar), tanggal 11 ada kunjungan dari Bli Mul dan keluarga ke Tabanan dan akhirnya tanggal 12 sudah berangkat lagi ke Bekasi. Berikut beberapa foto kenangan selama liburan.


Waktu di bandara, ada gadis Bali berpakaian adat menjemput tamu entah dari mana. Sebelum tamunya datang, Lita dan ayah memanfaatkan kesempatan untuk ambil gambar. Ya anggap saja ada sambutan untuk yang baru datang dari Sydney dan Jakarta.

Ini suasana di Sanggah Singaraja, pura keluarga mbah Kakung di Br. Tegal. Setiap pulang ke Bali kami memang berusaha menyempatkan datang untuk sembahyang. Selain sembahyang, yang terpenting tentunya adalah sima krama, silaturahmi bersama keluarga untuk menjaga tali persaudaraan.

Ini suasana setelah sembahyang, semuanya menunggu mobil yang disupiri sama Om Upik. Om Upik tidak ikut sembahyang karena harus mengantar tante Dian menemui keluarganya. Ssst.. Om Upik dan Tante Dian ini kelihatan seperti orang pacaran lo he he he. Dunia katanya milik berdua, sedangkan yang lainya ngontrak :(

Diah, Lita dan Wulan berpose di sanggah Mak Diah di Denpasar. Diah hebat lo, dapat juara satu lagi. Ayah sudah ngasih baju buat Diah, Wulan, dan Komang. Ayah juga janji sama Diah, kalau dapat juara satu lagi dapat hadiah main ke Jogja gratis.

Tanggal 12 Agustus kita bertolak ke Jakarta naik AirAsia. Kali ini tidak ada delay, pesawat terbang tepat waktu. Ini pose Lita di pesawat AirAsia. Senyumnya mirip ayah yang menyipitkan mata. Kayak Cina, katanya :)

Thursday, August 02, 2007

Rindu

Keterpisahan yang seringkali memang mengajarkan kita tentang kebersamaan. Setelah berpisah dengan keluarga beberapa lama, ayah memahami lebih baik tentang kebersamaan dan perhatian. Berpisah memang sebaiknya tidak lama karena keterpisahan dalam kadar dan waktu yang cukup bisa membuat kita menyadari lebih banyak hal. Keterpisahan membuat kita menyadari sesuatu yang tidak kita sadari saat besama. Kehadiran cinta yang berwujud fisik itu tak tergantikan. Istri dan anak yang menyayangi adalah alasan yang tidak tergantikan untuk bertahan.. bertahan.. dan bertahan. Terima kasih waktu.

Sunday, July 29, 2007

Tuesday, July 24, 2007

Persiapan pulang

Dear Ibu dan Lita di tanah air,
Limabelas hari lagi ayah pulang ke tanah air. Hampir semuanya sudah disiapkan, kecuali bersih-bersih rumah sebelum ditinggalkan. Saat ini ayah lagi mengejar deadline laporan supaya ada yang ditinggalkan sebelum pulang. Clive sudah nanyakan beberapa kali he he he Ayah memang cukup asik dengan hal-hal lain selama ini. Tapi jangan khawatir, masih seputar menulis dan publikasi. Selama di Australia, Ayah sudah punya lebih dari 10 publikasi lo he he

Oh ya, ayah akan ke Bali tanggal 8 Agustus, kita ketemu di Bali ya. Tanggal 12 ke Jakarta dan 14 ke KL untuk konferensi. Tanggal 17 pulang ke Jkt, merayakan kemerdekaan di Air Asia he he. Setelah itu ayah akan ada di Bakosurtanal selama seminggu dan selanjutnya main ke UGM selama seminggu juga. Kalau tidak ada halangan ayah balik ke Aussie tanggal 14 September, 2 hari setelah Lita ulang tahun. Tapi ayah gak janji karena nampaknya akan ada kunjungan dari UN ke Australia sehingga ayah harus ada di tempat. Kita lihat saja nanti.

Oh ya, akhirnya perjalanan ayah ini dibiayai penuh oleh ANCORS, tiket pesawat dan biaya konferensi sudah dikasih kok.. senangnya bisa ketemu anak istri gratis he he he.

Berita bagus lainnya, rumahnya ada yang take over jadi urusannya mudah. Internet, listrik dan telepon juga di take over sekalian jadi ayah gak ada beban apa-apa dan bond bisa kembali tanpa hambatan. Syukurlah banyak diberi kemudahan. Makasih ya doanya.

Ok segitu dulu update saat ini, tetap semangat ya :)
I love you.
Ayah

Sunday, July 22, 2007

Senyum mereka semangatku


Ibu dengan berat hati harus meninggalkan Lita selama 5 hari karena harus bertugas ke Gorontalo... Setiap hari ibu merindukan kenakalannya, manjanya, senyumnya... Klo bisa dibilang 5 hari ini rasanya berjalan sangat lambat.
Ketika ibu sampai depan rumah, anak2 segera berhamburan menyambut kedatangan ibu. Lita sampai lari keluar rumah memanggil ibu.
Langsung ibu keluarkan oleh2 yg ibu beli di pesawat Sriwijaya Air. Untuk Nanda, sebuah pesawat rakitan. Untuk gita dan Lita sepasang glitter. Gembiranya mereka, rindu ibu pun
terobati melihat mereka tersenyum. Tidur siang
ketiganya minta tidur ama ibu... yang pada akhirnya Gita dan Lita tidur di kiri kanan ibu.... saat2 ini yg ibu rindukan.

Lita ternyata sudah mulai mengerti posisi ayah dan ibu. Waktu ditanya ibu kemana kemaren dek? " Keja ke Orontalo", ayah kemana dek? "Keja uga" Untuk apa kerja? "Beli cucu buat dek Ita".... Jawaban polos Lita yang buat ibu bahagia.

I love U honey,

Ibu

Thursday, July 12, 2007

My place in Wollongong at Wikimapia

Notes: Please click arrows to slide and [-] or [+] to zoom out and in

Wednesday, July 11, 2007

ULANG TAHUN IBU KE 28


Ulang Tahun sebenarnya bukanlah hal yg luar biasa menarik utk diceritakan karena akan selalu berulang setiap tahun, apalagi ibu sudah mengalaminya sampai 28 kali (red-udah tua ya). Tapi ada cerita dibalik ulang tahun ibu kali ini yg ingin ibu share utk semua....

Minggu, 8 Juli 2007 adalah tepatnya ulang tahun ibu. Ibu terbangun mendengar suara sms dari ayah dan mbah, keduanya mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Belum sempat ibu jawab sms, keduanya menelpon... senang hati ibu walaupun jauh dihati ibu terasa sepi... (Lita and the gank baru akan pulang dari Bali sore hari) Tak apa... itulah hidup, ibu gak boleh sedih. Ibu naik sepeda berencana ke rumah Pakde Ari, berharap ada yg mengucapkan Ultah disana, sambil beli kue ultah utk diri ibu sendiri dg bertulis : "Happy B'day Ibu Tersayang" :)
Sayang, ternyata tak satupun di rumah pak De ingat ulangtahun ibu, so ibu pulang tanpa ucapan. Sedikit sedih sih, but never mind... Ibu pulang sambil ambil kue langsung ke rumah... didepan rumah Papa Nanda pun ternyata tidak tahu ibu ultah, sampai akhirnya ibu menunjukkan kue ultah ibu... Never mind... Tapi ada satu lagi yg melupakan ultah ibu, yaitu mama nanda, sampai akhirnya ibu harus bilang klo ada yg ultah... never mind.... I Know everybody has their own life :)
Yang penting dan membahagiakan adalah ketika anak2ku bisa ikut tiup lilin bersama... Terharu ibu setelah 2 minggu berpisah dg anak2 baru terasa mereka sangat berarti buat ibu.

Senin, 9 Juli 2007, pagi seperti biasa ibu mulai hari2 dengan cek email... surprise!!! sekitar 10 email lebih muncul dengan subject happy b'day... Paulien, mbak Maria, mBak Amalia, mBak Wulan, Bli Ode, mBak Dana, Bli Kusir, Bli Warsa, mas Ari, mas Wawan, Bli Tut, Atik, Bli Sujata. Ada juga yang menelpon dan sms, mas Bayu, Melna, mBok Iluh. Hampir setengah hari ibu disibukkan oleh menjawab email2 itu. Dalang dibalik itu semua adalah siapa lagi klo bukan ayah tercinta... Makasih ayah.

Selasa, 10 Juli 2007, seperti hari biasa gak beda. Cuman ada kejutan yg datang disore hari, kiriman bunga dari ayah... "Hari ini ada cinta, seperti hari2 lalu, Selamat ulang tahun"... Makasih ayah... Romantisme yang biasanya sudah dilupakan orang, tapi sangat bermakna dalam menjaga cinta. Temen2 banyak yg iri lho... mgkn mereka akan mengkopi metode ayah... hehehe


Begitulah sekilas cerita yg mungkin dianggap biasa, tapi sangat berarti buat ibu.... (foto2 akan segera menyusul ya)

Chatting sama Lita

Sunday, July 08, 2007

Touching moment

Minggu, 8 Juli 2008 adalah hari terakhir Lita liburan di Bali. Saatnya terbang kembali ke Bekasi menuju pangkuan Ibu.

Inilah saat-saat yang paling menyentuh bagi keluarga. Semua orang rumah melepas kepergian Lita di gapura, menyaksikan Lita yang sudah ada di mobil. Pekak dan Ninik mengantar Lita dan Kadek menuju Bandara. Sebelum masuk mobil Lita mencium semua orang untuk pamitan. Semua orang tanpa kecuali. Setelah masuk mobil, Lita pun melambaikan tangan tidak saja kepada keluarga yang menyaksikan penuh haru di gapura tetapi juga kepada para tetangga dekat yang menyaksikan dari depan rumah mereka. Lita melambaikan tangan ke kumpulan orang di sebelah kiri dan kanannya membuat semua orang tersenyum haru. Lita memang anak yang istimewa.

Selamat datang di pangkuan ibu ya...

Saturday, July 07, 2007

Lita dan anak entok

Kisah-kisah kecil selama di desa, selalu menarik bagi Lita. Salah satunya adalah cerita tentang anak entok (mentok) Pak Mang. Beberapa hari yang lalu telur-telur entoknya telah menetas dan kini Pak Mang memiliki beberapa ekor entok kecil yang tentu saja lucu-lucu. Pak Mang adalah kakaknya Pekak yang tinggal satu lingkungan rumah. Adalah hal biasa di Bali kalau ada beberapa keluarta tinggal dalam satu lingkungan rumah dengan satu Pura Keluarga (sanggah) tetapi masing-masing memiliki bangunan rumah sendiri. Satu lingkungan rumah ini ditandai dengan satu gapura dan satu sanggah.

Lita sangat menikmati bermain-main dengan anak entok. Bagi seorang Lita yang bahkan lahir di Sydney, melihat entok di alam nyata saja adalah pengalaman menakjubkan. Tentunya semua menjadi lebih istimewa lagi karena kini Lita bisa membelai-belai anak entok itu. Lita, kata Niniknya, sangat girang membelai anak-entok yang baru berumur beberapa hari. Bulu-bulunya pasti sangat halus dengan suara kikik kikik yang terdengar halus dari mulutnya. Semua itu membuat Lita semakin excitied.

Yang menyenangkan bagi Pak Mang dan semua orang di rumah termasuk Kak Ayan dan Kak Obo adalah Lita yang tidak takut dengan siapapun. Lita selalu cepat akrab dengan mereka, selalu tertarik dengan aktivitas bernuansa desa dan selalu mau kalau diajak melihat atau bahkan melakukan kegiatan itu. Lita tidak jarang minta ikut ke sawah ketika Kak Obo berangkat dengan cangkulnya. Begitu juga ketika Kan Ayan pergi melihat tanaman pertaniannya. Semua orang merasa Lita betah di rumah dan menjadi bagian dari keluarga. Awalnya banyak yang menduga Lita akan jadi anak kota, takut kotor, takut ayam, takut entok dan tidak mau dekat dengan babi yang bau. Ternyata anggapan itu salah. Lita sangat cepat dekat dengan hal-hal alami seperti itu. Sepertinya naluri alamiahnya sangat kuat.

Ayah jadi ingat masa kecil dulu ketika ayah memelihara berbagai jenis binatang dan dibiarkan berkeliaran di sekitar rumah. Mungkin tidak banyak orang ketika itu berhasil membuat burung emprit menjadi jinak, tekukur yang bisa datang ketika dipanggil, tupai yang berumah di gapura dan selalu menyambut ayah ketika pulang sekolah dan seekor kucing yang dengan setia berburu kadal di sawah sambil mengantarkan ayah mandi di pancuran. Cerita itu seperti bergema dan gemanya sampai ke Lita. Lita anak yang istimewa, seorang ksatria perempuan yang mencintai binatang...

Friday, July 06, 2007

Lita di desa

Sebelumnya Ibu sudah cerita kalau Lita ada di Bali sama Ninik dan Pekak nya. Biarpun Lita ada di Bali, kami selalu memantau perkembangannya. Bedanya, kini tidak bisa dengan webcam, harus lewat telepon he he he. Masih untung di desa ada telepon. Hal lain lagi, cerita seputar Lita di desa tidak akan dilengkapi foto karena memang di desa tidak ada kamera digital. Jangankan kamera digital, kamera analog saja tidak ada he he he. Ini beberapa cerita seputar Lita di desa.

Takut Anjing
Yang jadi ciri khas suasana desa di Bali adalah anjing yang berkeliaran dengan bebas. Tentu saja ini aneh sekali bagi Lita. Lita paling takut dengan anjing dan selalu teriak kalau didekati anjing. Padahal, menghindari anjing di Bali sama dengan menghindari sepeda motor. Tidak mungkin tidak bertemu. Saya bilang, populasi anjing di kampung sama dengan populasi motor. Setiap keluarga punya minimal satu :)
Setelah seminggu lebih di desa, Lita kini sudah terbiasa dengan anjing dan bahkan bisa tidur ditemani lolongan anjing di malam hari.

Lita degeng
Degeng itu artinya well-behave, tenang dan tidak rewel. Niniknya bilang, Lita bahkan sama sekali tidak pernah nangis. Nangis dua kali malam-malam karena bermimpi, sisanya happy. Kalau dulu Lita digigit nyamuk dan menimbulkan bekas, kali ini tidak lagi. Mungkin Lita sudah kebal :)

Lita ke sawah
Pekak-nya memang seorang petani, jadi cucunya pun harus mengenal pertanian. Lita paling senang diajak ke sawah melihat tanamannya Pekak. Pagi-pagi sudah diajak ke sawah atau ke ladang melihat tanaman. Bagi Lita, ini tentu saja pengalaman yang sangat berkesan. Mana pernah Lita melihat padi dan tanaman ketela rambat atau labu. De desa semuanya ada dan disaksikan dengan gratis. Lita perlu melihat kenyataan itu agar tahu dari mana ayahnya berasal dan dengan suasana apa ayahnya dibesarkan.

Lita mandi bola
Ini satu kegiatan yang sebenarnya tidak mencerminkan suasana desa. Tetapi niniknya kasihan karena sehari-hari Lita hanya bermain dengan ayam, itik, entok, anjing dan padi di sawah. Pengen juga sekali-sekali mengingatkan Lita dengan mainan yang biasa dilakukan di Jakarta dan Jogja, yaitu mandi bola he he he. Masih untung rumah tidak terlalu jauh dari Hardy's swalayan yang ada fasilitas mandi bolanya. Jadilah Lita menikmati juga permainan yang biasa dilakukannnya. Kalau saya bilang, ngajak Lita mandi bola sebenarnya tidak tepat saat berada di desa. Lebih baik kalau diajak mandi di sungai, atau di pancuran yang tidak jauh dari rumah. Tapi tidak apa-apa, Ninik Pekak-nya biar senang.

Lita banyak teman
Namanya juga desa, banyak anak-anak dan semua orang saling kenal. Setiap hari Lita menerima kunjungan dari teman-teman kecilnya yang betah di rumah hingga malam hari. Lita mulai berkomunikasi dengan bahasa anak-anak desa, sangat menyenangkan.

Lita semakin pintar bicara
Sejak di desa, Lita banyak berinteraksi dengan anak-anak kecil yang beragam sifatnya. Ini membuatnya semakin pintar biacara. Lita sudah bisa menirukan hampir semua kata-kata yang diucapkan Pekak atau Ninik. Setiap kali ditelepon ayah atau ibu, Lita selalu unjuk gigi dengan kosa kata barunya.

Begitulah Lita di desa, mungkin ibu punya cerita lain seputar Lita selama dia Bali.
Oh ya, tanggal 8 Juli Lita akan kembali ke pangkuan ibu di Bekasi. :)