Saturday, November 17, 2007

Kejutan datang!!!

Kamis pagi, 15 Nov 2007, seperti biasa hari itu ibu mulai dengan baca email dan minum segelas the di kantor. Mata ibu tertuju pada email dari ayah yang ber subject 10 tahun pertama … Ibu liat lagi calender, ya ibu baru ingat... 15 November 1997... Mata ibu berkaca-kaca membacanya sambil membayangkan kronologis 10 tahun yang lalu hingga saat ini. Ternyata utk mencapai hari ini hingga hadir seorang Lita ... 10 tahun sudah cinta kami diuji dan diperjuangkan. Bukan waktu yang singkat tapi tapi bagi kami terasa singkat, yang berarti ayah dan ibu menikmati waktu dengan sesuatu yang “berarti”. Ibu yakin kata-kata ayah dalam email itu memang benar adanya dan kekuatan cinta tulus yang diproklamasikan di Mandara Giri terbukti hingga dasa warsa ini. Terimakasih ayah atas cinta dan romantismenya yg terasa tak pernah luntur bahkan semakin kuat.... Email dari ayah ini menambah semangat ibu di kantor hari itu...
Ditengah2 kesibukan ibu, telp berdering dari resepsionis, “ibu ada kiriman” .... bergegas ibu ke depan dan melihat kotak besar dibawa seorang kurir... kue dari Pak made Andi .... terharu ibu melihatnya, inilah kejutan yg lain that more than I’ve expected.

Hebohlah TB corner dengan kehadiran kue raksasa ini ... banyak pertanyaan: apa makna “10 tahun pertama” ... juga kecemburuan hihihi....

Thanks a lot ayah... keep fighting for our family. Miss U...

Saturday, November 10, 2007

Pulang ke Jogja

Minggu ini, Ibu dan Lita ada di Jogja untuk liburan. Sudah lama ini direncanakan dan saat baik itu tiba juga akhirnya. Ibu dan Lita terbang ke Jogja tanggal 3 Nopember dan berada di rumah sampai 11 Nopember. Ibu memang ngambil cuti seminggu.

Selalu saja ada rangkaian cerita. Saat berada di Jogja, ibu harus memperbarui passpornya dan urusan bisa diselasaikan dalam waktu seminggu libur di Jogja. Meskipun harus rela berkompromi dengan waktu dan suasana liburan, dan terutama dengan petugas imigrasi Jogja yang sepertinya tidak semuanya bahagia dalam hidup, seminggu di Jogja pastilah memberikan kesan baik. Lagipula, untuk sengaja mengurus passpor di lain hari mungkin tidak mudah dilakukan karena kesibukan. Pulang ke Jogja selalu menyenangkan dengan segala perniknya yang khas.

Pekak dari Tabanan berkunjung ke Jogja menengok Lita dan juga Komang yang memulai kuliahnya di UGM. Sekali bepergian, dua tiga hal terselesaikan, begitulah ide perjalanan ini. Pekak-nya Lita nampak sangat bahagia dengan pertemuannya dengan sang cucu kesayangan. Tentu saja ini karena Lita memang sangat lengket dengan Pekaknya. Hal inilah yang menjadi ketakutan di masa lalu, ketika kami baru menikah. Bapak dan Meme' di bali khawatir kalau-kalau cucunya nanti tidak dekat dengan mereka karena memang secara geografis terpisah jauh. Kekhawariran itu terjawab sudah dan melegakan. Menurut Pekak, Lita sangat cerdas. Kalau bukan kakeknya sendiri yang memuji, siapa lagi :)

Lita juga sangat menikmati pertemuanya dengan Eyang Kakung dan Eyang Putrinya di Jogja. Semua terkesan sumringah dengan kedatangan Lita, terutama karena Lita memang sangat mudah dekat dengan orang. Tidak pernah Lita menolak digendong atau diajak bicara oleh orang asing sekalipun. Ini sangat menyenangkan bagi orang-orang di sekitarnya. Lita juga menikmati masa-masa bermain dengan teman lamanya di Jogja dan beberapa kali 'diculik' oleh ibu-ibu tetangga di kampung. Begitulah Lita, selalu ada cerita tentangnya.

Selama di Jogja, Ibu mampir ke kampusnya, ke kampus ayah juga sambil melakukan beberapa hal adminsitrasi sekaligus bertemu sahabat lama. Tentu menyenangkan berada di Jogja dengan suasana liburan, walaupun sekali dua kali hp masih berdering dan ada telepon dari kantor yang harus dijawab. Oh ya, kenapa ayah tahu semua cerita ini? Thanks to the Internet :)

Jogja, pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu....[Kla Project]

Friday, November 09, 2007

Niagara Falls

Hi Ibu dan Lita:)

Beberapa waktu lalu ayah sempat main ke Niagara Falls alias Air Terjun Niagara. Ya betul, yang terkenal itu dan Superman pernah disyuting di sana :) Ayah pergi dengan Rotrigue dari Benin dan Sampan dari Thailand. Perjalanan menggunakan bus tour dengan membayar USD 74 termasuk hotel semalam. Harga ini cenderung murah untuk ukuran New York

Sewaktu di sana, sesungguhnya tidak banyak yang terlalu menarik, terutama karena ayah memang lahir dan besar di sungai dan sawah. Air terjun sebenarnya tidak terlalu istimewa karena sewaktu kecil ayah memang selalu mandi di sungai, belarian di tengat sawah dan melompat dari ketinggian kemudian menukik di birunya 'tibu', bagian sungai yang dalam dan tenang. Kalau saja ayah ke Niagara Falls 17 tahun lalu, mungkin tidak ada yang perlu diherankan.

Yang menarik, sungai Niagara ini adalah batas antara USA dan Canada. Ayah tentu saja melihat air terjun ini dari sisi USA (masih dalam negara bagian New York) sambil menikmati Ontario, Canada yang hanya beberapa meter di seberang. Dari sini terasa sekali betapa pembangunan di wilayah perbatasan menjadi sangat penting. Pengunjung ataupun penduduk asli akan dengan mudah melihat kemajuan dan perkembangan di negara tetangga dan dengan mudah membandingkan dengan apa yang dimiliki negaranya. Kalau ketimpangan terjadi, dengan muda rasa cemburu akan tumbuh, termasuk lunturnya nasionalisme.

Waduh, kok jadi berat begini bahasannya ya he he he

Anyway, Niagara is good to visit. Mungkin suatu saat kita sekeluarga akan datang ke sini. Why not!

Thursday, October 25, 2007

ALA = Andi Lita Asti

Dear Lita dan Ibu,

Kemarin ayah chatting dengan seorang kawan yang sedang sekolah di Malaysia. Ayah ingin menceritakan kalau ayah mendapat beasiswa ALA untuk sekolah doktor di Australia. Ayah bilang sama dia, "Ded coba lihat perjuangan ALA di blogku, mungkin suatu saat ada manfaatnya buatmu". Kawan ini menjawab dengan lugunnya. ALA itu apa Bli? ALA = Andi Lita Asti?

Ayah sendiri terkejut mendengar pertanyaan polosnya ini. Ternyata apa yang kita sebut kebetulan (yang katanya sesungguhnya terencana), itu masih terjadi di dunia ini. Inilah dunia kita yang penuh dengan jejak-jejak makna seperti kata Gede Prama.

Sunday, October 21, 2007

Orang-orang pilihan



Dear Ibu dan Lita di tanah air,
Berada di New York dan membuat buku membuat ayah memiliki akses dengan orang-orang top di negeri ini. Sampai kini ayah telah bertemu dengan banyak sekali orang top yang sempat ayah hadiahi buku. Bukunya diberikan ke beliau-beliau karena memang secara langsung maupun tidak mempunyai kepentingan dengan materi dalam buku tersebut.

Yang paling kiri adalah Prof. Hasjim Djalal, mantan duta besar Indonesia untuk berbagai negara dan adalah "veteran" hukum laut Indonesia yang diakui dunia. Ayah bertemu beliau di Sekretariat PBB di New York ketika memberikan seminar. Keampuhannya memang terbukti. Semua orang terpukau melihat presentasinya. Foto di tengah adalah Mohammad Sobary, Kang Sejo yang telah menulis segudang artikel dalam hidupnya. Beliau sempat menjadi ketua Kantor Berita Indonesia, Antara. Ayah bertemu dengat beliau di acara konferensi Alumni ADS di Jakarta. Sedangkan yang paling kanan adalah Dr. Marty Natalegawa, Duta Besar Perwakilan Tetap Republik Indonsia untuk PBB. Beliau adalah diplomat dengan karir cemerlang, menjadi Duta Besar Indonesia untuk UK di usia 43 tahun. Pertemuan dengan Pak Marty terjadi di Gedung PTRI di New York, setelah sebelumnya bertemu di Gedung Sekretariat PBB secara tidak sengaja.

Ayah tidak tahu apakah pertemuan dengan orang-orang besar ini akan membawa manfaat di kemudian hari. Yang jelas, karya ayah ada di tangan orang-orang yang berpengaruh. Semoga ia mencapai tujuannya dan memberi makna kepada negeri ini.

Ayah dan Anak

Banyak sekali kawan saya yang bilang kalau Lita mirip sekali dengan Ayahnya. Wajahnya yang pastilah paling kentara. Tapi saya yakin kalau banyak yang tidak tahu kal au sifatnya pun sangat mirip ayahnya. Tiga foto di atas yang diambil tanpa rekayasa oleh Ibu membuktikan hal itu. Dalam satu periode tidur, berkali kali kami tanpa sengaja ber'pose' sama. Ini tanda-tanda sifat yang sama kan? :) Jadi kalau Lita kadang tidak sabar, suka protes, dan selalu punya ide yang membuat ibunya geleng-geleng kepala, saya segera tahu dari mana semua itu berasal :)

Tuesday, October 16, 2007

Cinta terakhir

Lagu untuk Ibu dari ayah... I miss you so... Lita, jaga ibu untuk ayah ya. I love you two.


Tak semestinya
Ku merasa sepi
Kau dan aku
Di tempat berbeda
Seribu satu alasan
Melemahkan , tubuh ini

Aku disini
Mengingat dirimu
Ku menangis tanpa air mata
Bagai bintang tak bersinar
Redup hati ini

Dan ku mengerti sekarang
Ternyata kita menyatu
Di dalam kasih yg suci
Kuakui kamulah cinta terakhir (cintaku)

Thursday, October 11, 2007

Lita potong rambut

Setelah sekian lama ibu bercita-cita memanjangkan rambut Lita akan terkesan girly, akhirnya ibu menyerah pada keputusan utk memotong rambut. Ibu perhatikan cita-cita ibu telah menyiksa Lita karena kegerahan....
Saat ibu bawa Lita ke salon, tanpa menangis sedikitpun Lita duduk manis di kursi salon dengan dibungkus handuk dan dilapisi kain yang menutup badannya. Dengan patuh dia ikuti perintah sang hairdresser... liat kaca dek, merem dek, jangan gerak dek, liat ibu dek... sambil kres kres kres... Sang hairdresser agak kebingungan liat alur rambut Lita yang unik... Alhasil Lita tampil dengan kids style, alias potong pendek hehe.... Lita pun nampak happy dengan kesegaran barunya, no more garuk-garuk :)

Ibu sadar memang kita tidak boleh memaksakan keinginan/cita-cita kita pada anak. Berikan kesempatan utk memilih dan memutuskan cita-citanya sendiri as long as she happy and responsible for her decision. ILU Lita...

Bertemu Pak Marty

Dear Ibu, Lita dan pembaca :)

Nampaknya belakangan ini hanya Ayah yang rajin nulis ya, ibu sibuk sekali he he he. Ok no worries, silahkan Ibu selesaikan dulu kerjaannya, setelah itu sempatkan posting ya.

Hari ini sangat istimewa bagi ayah karena sempat bertemu Bapak Marty Natalegawa, Dutebesar Luar Biasa Indonesia untuk Perwakilan Tetap kita di PBB. Bapak Marty ini istimewa karena beliau adalah pejabat tinggi plus karena beliau mencapai jabatan tinggi itu di usia yang sangat amat muda. Pak Marty sudah mejabat Duta Besar untuk UK di usia 43 dan sekarang beliau baru berusia 44 tahun. Sangat muda untuk ukuran seorang Duta Besar. Oleh karenanya, tentu tidak berlebihan kalau ayah bilang bahwa bertemu Pak Marty adalah keistimewaan.

Ibu dan Lita mau tahu bagaimana awal mulanya?
Suatu saat ayah berada di Sekretariat PBB di 1st Avenue, Manhattan, untuk mengantar seorang kawan dari Filipina membuka rekening bank. Ketika menunggu, tiba-tiba terdengar seseorang berbicara di telepon dalam Bahasa Indonesia. Tidak terlalu umum mendengar orang bebahasa Indonesia di Gedung PBB, jadi ayah perhatikan. Ternyata orang itu adalah Pak Marty. Tentu saja ayah tahu karena beliau sangat populer di koran dan TV.

Ayah putuskan untuk menyapa saat beliau sudah selesai menelpun. Terjadilah pembicaraan, ayah berbasa basi sejenak dan beliau bertanya apa yang ayah lakukan di New York. Ayahpun kemudian menjelaskan. Beliau sangat tertarik karena topik batas maritim dan hukum laut sangat terkait dengan posisinya. Tanpa berpanjang-panjang beliau mengundang ayah untuk datang ke kantornya. "Silahkan kotak sekretaris saya untuk mengatur waktu pertemuan", begitu katanya.

Hari ini ayah betemu beliau, didampingi Pak Adam, staff hukumnya. Pertemuan sangat baik, juga produktif. Terlihat Pak Marty memang seorang diplomat yang progressif. Belaiau anti birokrasi yang berbelit-belit itu terlihat dari komentarnya. Pak Marty juga seorang pendengar yang baik.
Acara ditutup dengan buka bersama. Ayah tentu saja termasuk orang yang ikut saur, tetap makan siang dan selalu semangat untuk buka :) Ayah juga berkenalan dengan banyak diplomat di PTRI, termasuk dengan Bapak Putu, penasihat militer PTRI yang adalah ahli rudal. Beliau juga sangat bersahabat, seorang tentara yang saintis.

Thursday, October 04, 2007

Kantor, Rumah dan Makanan

Dear Ibu, Lita dan pengunjung :)

Ini adalah sebuah cerita ringan tentang aktivitas sehari-hari di New York. Beberapa hari yang lalu ada acara makan siang bersama hampir seluruh karyawan DOALOS (Office of Legal Affairs) di sebuah restoran Italia di jalan 2nd Ave. tidak jauh dari kantor PBB (UN Plaza). Ini katanya adalah tradisi untuk menjaga suasana akrab sesama karyawan.

Layaknya makan di restoran barat, pilih sendiri dan bayar sendiri tentu saja. Menunya cukup 'aneh', bagi orang Bali yang biasa makan lawar. Demi sosialisasi, toh tidak ada salahnya dicoba. Seorang kawan berkebangsaan Italia bergurau, "you have to tell us the famous Indonesian Restaurant in Manhattan so we can go there someday". Singkat kata, makan siang waktu itu sangat berkesan. Semua orang menikmati dan semuanya lepas sejenak dari kesibukan kerja.

Cerita lain seputar hidup di sini adalah perihal aktivitas kantor. Berada di Gedung PBB memang sebuah priviledge. Setiap hari bergaul dengan orang dari berbagai negara dan mendengar isu yang dulunya hanya dibaca dari buku dan korang. Dua hari yang lalu sempat mengikuti sidang resolusi hukum laut bersama DOALOS dan delegasi beberapa negara. Sangat berkesan menyaksikan debat berkualitas para peserta sidang. "Yes, Canada." atau "Thank you China" begitu koordinator ketika mempersilahkan atau menanggapi argumentasi dari berbagai delegasi. Hukum yang mempengaruhi planet bumi memang sedang dibicarakan di ruangan ini, saya beruntung ada di dalamnya. Sayang sekali, sebagai fellow saya tidak memilki hak bicara karena tidak bisa mewakili Indonesia.

Untuk urusan makan, di daerah Queens ada banyak restoran China, terutama di daerah Broadway. Makanannya enak dan tidak mahal. Selain itu ada juga toko Asian Groceries tempat membeli bumbu dan bahan makanan Asia termasuk Indomie dari Indonesia. Semuanya mudah dan dengan harga yang masih terjangkau. Setidaknya terjangkau oleh seorang UN-Nippon Fellow :)

Yang agak mengganggu adalah tiap hari harus berpakaian kemeja dan berdasi kalau di kantor. Konsekuensinya, harus nyetrika baju setiap minggu. Ini yang sudah lama tidak dilakukan, mungkin sejak 3 tahun lalu. Di sini, mencuci dilakukan di laundri bersama menggunakan coin. Jadi teringat film 40 nights 40 days ketika Matt dan Erica bertemu pertama kali di Public Laundry. Tentu saja di sini tidak ada Erica walaupun Ayah juga seperti Matt sedang 'puasa' 40 hari 40 malam [bahkan lebih] he he he.

Layaknya orang udik yang tumben ke gedung PBB, aktivitas foto-masih saja berlangsung. Tidak tega rasanya melewatkan setiap sudut tempat dan kejadian di sini tanpa mengabadikannya. Setiap titik rasanya layak untuk dipotret dan semuanya indah. Sayang tidak sempat belajar motret yang baik sehingga hasilnya pun standar saja :(

Friday, September 28, 2007

Minggu pertama di New York

Dear Ibu dan Lita,

Saat ini ayah sudah berada di New York setelah menempuh 24 jam perjalanan. Ayah baru sempat bercerita karena masih penyesuaian dan juga Jet Lag yang agak parah karena perbedaan waktu 11 jam dengan Jakarta. Ayah di sini baik-baik saja. Semua berjalan dengan baik. Ayah sampai di US tanggal 22 September malam, mendarat pertama kali di Minnesota dan melanjutkan perjalanan ke New York malam itu juga.

Ayah tinggal di sebuah keluarga Indonesia, Pak Madjid namanya, mereka sangat baik. Ibunya (Bu Endang) juga sering membuatkan teh untuk ayah. Mereka memiliki dua anak, Fadjar (30) dan Farah (26). Pak Madjid kerja di KJRI dan Ibu Endang kerja di suatu tempat yang ayah gak tahu he he he. Pokoknya di Manhattan. Ayah diberi kamar yang sangat bagus, fully furnished lengkap dengan sarapannya he he he

Tanggal 23 pagi Ayah sudah menjelajah New York City sendiri hanya berbekal peta saja. Suasana di sini tidak jauh berbeda dengan sydney, cuma orangnya kelihatan lebih beragam. Banyak orang hitam dan latin di mana-mana. Kebersihan juga mirip2 dengan Sydney. Cuma suasana subway jauh lebih ramai nampaknya. Ayah beli tiket seharga 76 dolar untuk sebulan, bisa untuk bus dan kereta di NY. Sangat murah sebenarnya. Lebih murah dibandingkan di Sydney dan di sini tidak ada istilah konsesi atau bukan. Semua sama.

Tanggal 24 ayah mengunjungi Patung Liberty. Memang besar sekali dan benar-benar menjadi simbol Amerika. Orang antri berjubel untuk berkunjung. Liberty ini ada di sebuah pulau kecil yang sekarang dikenal sebagai Pulau Liberty. Untuk ke sana kita harus naik ferry. Dengan USD 17.50 Ayah sudah bisa mengunjungi Liberty Statue lengkap
dengan Audio Tour juga Ellis Island, pulau kecil yang jaman dulu dijadikan pintu gerbang imigran yang datang ke Amerika. Kini pulau itu menjadi musium. Seru sekali menyaksikan bagaimana mereka memperlakukan imigran jaman dulu. Pulau ini merupakan tempat persinggahan pertama 12-an juta migran yang masuk ke Amerika. "A nation of Migrants" begitu JFK menyebut Amerika.

Sayang sekali Ibu dan Lita tidak ada di sini, ayah menikmati semuanya sendiri. Tidak lengkap rasanya. Tapi suatu saat kita akan ke sini. Ayah yakin itu. Terpaksa berfoto sendiri dengan gaya seadanya he eh he.

Oh ya, di NY sekarang ini ada sidang PBB. Semua kepala negara seluruh dunia ada di sini terutama tanggal 23-26. Ketika masuk kantor pertama kali, ayah menyaksikan suasana seperti di film-film. Polisi New York (NYPD) dengan seragam seperti Will Smith dan Keanue Reaves berkeliaran di sekitar gedung PBB. Jalan ditutup dan semua diperiksa. Sedan, motor, truk bertulisan NYPD ada di mana-mana. Polisi berseragam dan bersenjata lengkap. Kalau kita melirik ke atas gedung-gedung tinggi, penembak jitu bertengger di tempat-tempat strategis siap dengan senapan canggihnya. Intinya, suasana sangat waspada.

Ayah sendiri mendapat sedikit kesulitan karena belum memiliki ID. Untunglah membawa surat sakti dari UN, sehingga boleh masuk. Lihat peta lokasi gedung PBB di sini

Akhirnya ayah bertemu dengan program adviser, Francois Bailet, orang Perancis. Dia baik sekali. Bersama dia, ada juga Sampan Panjarat, fellow dari Thailand. Dia seorang cewek yang kerja di departemen perikanan Thailand. Dia adalah fellow pertama yang sudah sampai di UN tanggal 15 September lalu. Orangnya baik, sudah 34-an tahun umurnya.

Akhirnya Ayah mengikuti beberapa proses orientasi termasuk berkenalan dengan orang-orang di Office of Legal Affairs PBB dan membuat ID tentu saja. Ayah juga sempat berkunjung ke Sekretariat PBB yang ada di seberang jalan (lihat peta tadi). Delegasi di seluruh dunia tumpah ruah di sana dan beraneka ragam rupa dan tingkahnya. Ini adalah pertemuan besar. Nasib Planet Bumi sedang dibicarakan di gedung ini. Luar biasa. SBY juga datang, tapi ayah tidak sempat bertemu.

Hari itu berjalan lancar, ayah sudah menyelesaikan semua urusan awal dan dapat ID. Kini bisa berjalan-jalan di sekitar UN tanpa perlu ditanya oleh NYPD. Kini dengan ID UN, ayah bahkan bisa berfoto bersama polisi itu termasuk bergaul dekat dengan anggota Secret Service yang berkeliaran di jalan. Begitulah, hidup terasa seperti di film
Hollywood :))

Tanggal 26, ayah masuk seperti biasa. Kini sudah mulai mikir tentang laporan. Sekali waktu sempat juga datang ke Sekretariat PBB untuk melihat suasana dan menyaksikan bagaimana NYPD menguasai jalan dan kawasan di sekitar UN office. Singkat kata, seru!

Hari ini (27-09) juga berjalan lancar tidak ada masalah. Ayah sambil menikmati New York tetap menyelesaikan laporan. Oh ya, setiap hari ayah harus menggunakan jas lengkap di sini. Orang-orang sangat rapi. Beda jauh dengan waktu di Australia yang jauh dari kesan formal.

Itu sementara cerita ayah Bu. Ayah akan sambung terus dengan cerita seru lainnya dan foto-foto tentu saja. Salam sayang dari Ayah untuk Lita.

Friday, September 21, 2007

Foto studio

Menjelang keberangkatan ayah ke New York selama 3 bulan, kita sempatkan utk mengabadikan kebersamaan kita di Studio Foto Hongkong. Selain itu kita juga cetak beberapa foto utk dikirim ke Jogja dan Bali.Dek Lita senyum dong.... rayu fotografernya supaya Lita senyum. Ternyata Lita belum bisa senyum natural seperti biasa klo ibu foto pake kamera di rumah. Alhasil bergaya dengan kepala miring aja.

Giliran Lita bergaya sendiri, tegang juga ternyata... ibu ampe jungkir balik ngarahin gaya di depannya gak juga berhasil. Hehe...

Senyum yang sedikit dipaksakan.... tapi tetep keliatan cantik anak ibu ini.


Akhirnya Lita ikutin juga gaya ibu di depan.

Friday, September 07, 2007

Sepuluh tahun pertama

Sepuluh tahun yang lalu, tapatnya tanggal 7 September 1997, kami bertemu untuk pertama kali. Ketika itu saya adalah mahasiswa tingkat dua dan Asti baru saja memulai perjalanannya di UGM. Begitulah seperti bisa ditebak, seorang senior tanggung memanfaatkan posisinya mendekati sang adik bak pahlawan kesiangan :) Asti yang masih belum menemukan jalannya, mungkin seperti mendapat pahlawan atau setidaknya teman dalam menjalani hari-hari. Demikianlah, singkat kata kami bersepakat menjalani hari-hari bersama. Kini hari itu telah berlalu selama sepuluh tahun. Waktu memang seperti terbang dan kami telah melewati banyak hal.

Pada peringatan sepuluh tahun pertama ini kami bahkan juga merayakan ulang tahun ke-2 putri kami, Lita. Alangkah banyaknya yang sudah terjadi. Dimulai dari pertemuan kecil yang dihiasi malu-malu di Balairung UGM, kini sudah ada seorang Lita. Jika tidak ikut menikmati, kejadiannya memang terasa sangat cepat. Lebih jauh lagi, banyak yang barangkali tidak bisa menebak apa saja yang sudah terjadi. Biarkan saya bercerita sedikit tentang sepuluh tahun ini.

15 November 1997 adalah saat pertemuan itu diresmikan jauh di Pura Mandaragiri, Gunung Semeru sana. Layaknya dua anak muda, hari-hari dihiasi keindahan dan juga pasti duka. Saya pribadi banyak belajar arti kesabaran dan menjadi sedikit lebih sabar karena Asti, itu pasti. Selama berpacaran, kami adalah dua anak muda biasa. Ngapel malam minggu, saya rajin memberi bunga mawar, naik motor malam minggu hingga agak larut, makan di angkringan, main di Kaliurang, menghabiskan waktu di kos saya dan lain-lain termasuk bolos kuliah :)

Tahun 2001, ketika cinta berumur empat tahun saya memulai karir di dunia kerja, berpisah sementara ketika saya ada di Malang, Surabaya dan Jakarta hingga akhir 2002. Waktu juga yang membuat kami bersama lagi di Jogja awal 2003 ketika saya memutuskan jadi dosen di UGM.

14 April 2003, pernikahan adalah tanda kesepakatan kami sudah final dan mengikat ketika cinta berumur enam tahun. Ritual yang bagi kami sangat berkesan adalah buah tangan orang tua di Bali. Tidak akan terbalas. Awal tahun 2004 kami mengembara ke negeri Kangguru karena saya harus memperdalam kanuragan. September 2005, ketika kebersamaan sudah 8 tahun, Lita lahir dengan selamat disaksikan keempat grandparents-nya di sebuah rumah sakit di Sydney. Pengalaman yang tak akan terlupa.

Awal 2006 kami pulang ke Jogja, memulai hidup baru yang tanpa sadar sebelumnya tidak sempat kami lakukan. Semuanya relatif semu sebelumnya, seperti tidak menginjak bumi karena terlalu banyak kemudahan yang diberikan oleh waktu. Waktu berlalu cepat, Asti praktik di klinik dan menjadi asisten peneliti di UGM. Saya sendiri asik dengan pekerjaan dosen. Di akhir 2006 kejutan muncul lagi. Saya diterima sebagai peneliti tamu atas dukungan UN-Nippon Foundation di Australia dan di US, sedangkan Asti diterima bekerja di WHO. Kami harus berpisah untuk beberapa saat. Bukan keputusan yang sangat baik, setidaknya kata beberapa kawan saya, tetapi toh harus kami lewati. Setidaknya hari ini semua sudah hampir selesai. Saya masih akan di US selama beberapa saat dan Asti akan segera menyelesaikan kontraknya dengan WHO. Tapi bukan berarti perjuangan selesai. Saya diam-diam telah menyiapkan kejutan lain yang mungkin akan membuat hidup kami seperti layang-layang lagi, saya tidak tahu.

Selamat ulang tahun cinta, satu dasawarsa adalah saat yang baik menilai pelajaran.

Saturday, September 01, 2007

Buku Baru: Batas Maritim Antarnegara

Dear Ibu dan Lita,
Ayah punya buku baru lo. Kali ini bukan tentang Google tetapi tentang keahlian ayah (padahal ayah sendiri belum ahli :) yaitu "Batas Maritim Antarnegara" atau "International Maritime Boundaries".

Buku ini diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press dan mulai beredar di pasar awal Septermber 2007. Buku ini penting bagi mereka yang menekuni batas maritim baik dari segi teknis/geodetis maupun dari segi hukum/legal. Kalau Ibu dan Lita punya teman yang berkecimpung di bidang ini, boleh lah dipromosikan ya.

Oh ya, masih ingat sama beberapa kasus yang terjadi belakangan ini seperti Sipadan dan Ligitan, Ambalat, Penembakan nelayan di Selat Malaka, dll. Buku ini akan memberi pemahaman yang lebih baik.

Kalau mau tahu ringkasan dan daftar isi lengkap, silakan simak di sini.

I Love you.
Ayah

Saturday, August 25, 2007

Trend 2007

Menjelang ulang tahun keduanya, Lita sudah nampak centilnya mengikuti gaya trend 2007... hehehe...
Baju U can c warna hijau dominan tahun ini, juga gaya ultraman menjadi trend di jatimulya.
Gaya rambut dengan poni rata dan pita kecil2 di kanan kiri nambah cantik Lita.
Apalagi dengan senyum manisnya itu :)
Masih tetap dengan warna hijau, tetap cocok dengan di padu kacamata warna pink, menambah kesan girly.
Gita-pun tambah cantik dengan kacamata barbie warna merah dengan gagang bunga2.
Pasaran dan ibu-ibukan pun menjadi trend permainan tahun 2007 di Jatimulya.

Sunday, August 19, 2007

Berenang

Berenang adalah salah satu kegiatan yg disukai Lita. Apalagi saat ini ditemani ayahnya.Ayah terharu melihat kemajuan Lita dan keberaniannya berenang.
Lita udah bisa berenang sendiri di kedalaman air 1.25 m. Bakatnya ini mulai muncul sekitar sebulan yg lalu. Namun sayang, ketahanan tubuh Lita kurang bagus kr setiap abis berenang langganan deh batuk pileknya.... hikkk

Saturday, August 18, 2007

17-an di sekolah

Peringatan 17 agustus di TK Binakarsa dimeriahkan juga dengan kehadiran si kembar mensupport kakak nanda utk mengikuti berbagai perlombaan.Dengan semangat 45, Lita dan Gita memakai seragam Australi oleh2 dari ayah.
Gita dengan setia mendampingi kakak nanda menghabiskan kerupuknya. Ini saat yg menyenangkan buat nanda karena hampir tidak pernah anak2 makan kerupuk di rumah hehehe....
Lita dan Gita mengasah kemampuan motoriknya dengan aktivitas panjat2.

Sunday, August 12, 2007

Liburan di Bali

Akhirnya keluarga yang terpisah hampir lima bulan dipertemukan juga oleh waktu. Seperti direncanakan kami bertemu di Bali sore hari tanggal 8 Agustus 2007 di Bandara Ngurah Rai. Rencananya Ibu dan Lita yang menunggu ayah dari Sydney tetapi ternyata AirAsia mengalami penundaan waktu terbang sehingga Ibu dan Lita terlambat. Akhirnya Ayah, Pekak, Ninik dan Om Upik yang menunggu di Bandara.

Kegiatan di Bali cukup padat, tanggal 8 sampai di Tabanan, tanggal 9 ke Singaraja ada persembahyangan, tanggal 10 ayah kunjungan ke TRISMA (SMA 3 Denpasar), tanggal 11 ada kunjungan dari Bli Mul dan keluarga ke Tabanan dan akhirnya tanggal 12 sudah berangkat lagi ke Bekasi. Berikut beberapa foto kenangan selama liburan.


Waktu di bandara, ada gadis Bali berpakaian adat menjemput tamu entah dari mana. Sebelum tamunya datang, Lita dan ayah memanfaatkan kesempatan untuk ambil gambar. Ya anggap saja ada sambutan untuk yang baru datang dari Sydney dan Jakarta.

Ini suasana di Sanggah Singaraja, pura keluarga mbah Kakung di Br. Tegal. Setiap pulang ke Bali kami memang berusaha menyempatkan datang untuk sembahyang. Selain sembahyang, yang terpenting tentunya adalah sima krama, silaturahmi bersama keluarga untuk menjaga tali persaudaraan.

Ini suasana setelah sembahyang, semuanya menunggu mobil yang disupiri sama Om Upik. Om Upik tidak ikut sembahyang karena harus mengantar tante Dian menemui keluarganya. Ssst.. Om Upik dan Tante Dian ini kelihatan seperti orang pacaran lo he he he. Dunia katanya milik berdua, sedangkan yang lainya ngontrak :(

Diah, Lita dan Wulan berpose di sanggah Mak Diah di Denpasar. Diah hebat lo, dapat juara satu lagi. Ayah sudah ngasih baju buat Diah, Wulan, dan Komang. Ayah juga janji sama Diah, kalau dapat juara satu lagi dapat hadiah main ke Jogja gratis.

Tanggal 12 Agustus kita bertolak ke Jakarta naik AirAsia. Kali ini tidak ada delay, pesawat terbang tepat waktu. Ini pose Lita di pesawat AirAsia. Senyumnya mirip ayah yang menyipitkan mata. Kayak Cina, katanya :)

Thursday, August 02, 2007

Rindu

Keterpisahan yang seringkali memang mengajarkan kita tentang kebersamaan. Setelah berpisah dengan keluarga beberapa lama, ayah memahami lebih baik tentang kebersamaan dan perhatian. Berpisah memang sebaiknya tidak lama karena keterpisahan dalam kadar dan waktu yang cukup bisa membuat kita menyadari lebih banyak hal. Keterpisahan membuat kita menyadari sesuatu yang tidak kita sadari saat besama. Kehadiran cinta yang berwujud fisik itu tak tergantikan. Istri dan anak yang menyayangi adalah alasan yang tidak tergantikan untuk bertahan.. bertahan.. dan bertahan. Terima kasih waktu.