Saturday, December 22, 2007

Selamat Hari Ibu, istriku.

Ketika umur bertambah dewasa, sering kali kemalasan menghinggapi kita untuk menyatakan cinta. Saat seorang teman beranjak jadi kekasih dan kemudian menjadi istri dan akhirnya menjadi ibu dari anakku, seorang aku bisa saja bermetamorfosis dalam hal kepekaan akan cinta. Saat inilah hidup berubah pelan dan seperti tidak disadari. Kehangatan bisa memudar. Saat inilah penyelamatan diperlukan dan kesadaran menjadi satu-satunya pembuka pintu kesempurnaan hidup.

Perubahan dari suasana manja bergelimang cinta menuju kebersahajaan dan kedewasaan yang bijaksana seringkali menjadi alasan untuk tidak memikirkan lagi hal-hal yang mengharu biru. Begitulah seorang aku bisa lupa akan apa yang pernah menggelorakan semangat di masa muda. Jika dulu ada kegelisahan lelaki yang senantiasa membakar semangat cinta, kini kesibukan dan kebesaran nama seringkali membuat semuanya sedikit berbeda.

Aku mengerti. Aku tidak menyesali ini. Kedewasaan memang menjadikan kita lebih tenang, tidak meledak-ledak sekaligus lebih bijaksana, pun dalam menyatakan cinta. TETAPI, tidak pernah ada alasan untuk mengurangi cinta. Ini yang aku jaminkan kepadamu. Benar memang waktu membawa angin perubahan tetapi semuanya hanya hiasan. Seperti musim berganti dengan wajah dan kesegaran baru, begitu juga kedewasaan kita menghadirkan perilaku yang berbeda. Memang tidak lagi kita jalani hari-hari seperti halnya 10 tahun yang lalu ketika pandangan mata menimbulkan birahi, kini pandangan mata adalah kebijaksanaan yang bertanggung jawab. Puncak kenikmatan kita adalah keheningan. Begitulah kita melakukan lompatan dalam hidup.

Istriku, hari ini adalah Hari Ibu. Umat manusia merayakannya dengan cara masing-masing. Bagiku sesungguhnya ini tidak istimewa karena keibuanmu tidak pernah berkurang di hari biasa. Terima kasih yang tidak berhenti ini semestinya menjadi obor bagimu yang terasa bernasnya saat gelap menjelang. Momen ini hanyalah pertanda. Kuresmikan terima kasihku dengan ucapan dan kupastikan cintaku dengan ujaran yang barangkali sesungguhnya tidak perlu. Agar umat manusia mengetahui niatku dan menjadikannya pelajaran untuk generasi mendatang, harus kunyatakan dengan bahasa sederhana bahwa aku mencintaimu. Selamat Hari Ibu.

5 comments:

Anonymous said...

dear ayah...
makasih atas penghargaannya yg luarbiasa buat ibu. Menjadi ibu sudah menjadi suatu kebahagiaan tersendiri dan kebahagiaan itu semakin besar ketika seorang ayah memberi cinta yang tak pernah surut buat ibu (teruji ketika jarak dan waktu memisahkan kita utk beberapa waktu). Ibu juga mencintai ayah...

Unknown said...

Izin copas gan terharu sangat saya gan

Unknown said...

mohon izin untuk copas ya min

Unknown said...

Mohon ijin copas ya

Unknown said...

Izin copas ya,