Meskipun belum lancar sekali, pada dasarnya Lita sudah mulai Bilingual :)
Rumah maya Keluarga Arsana
Rumah bagi Andi (aka: Madé) dan Asti (aka: Ketut) dan Lita untuk berbagi cerita dengan sahabat mereka.
Selamat datang!
Monday, April 21, 2008
Saturday, April 19, 2008
Monday, April 14, 2008
Ultah Pernikahan ke 5
Tepatnya 14 April 2003, ibu dan ayah resmi menikah setelah menjalani prosesi sejak seminggu sebelumnya. 7 April 2003, ayah dan rombongan 2 mobil dari Bali datang ke Jogja utk melamar ibu. Amat berkesan karena banyak orang berperan penting dalam kejadian ini: keluarga bali, keluarga jogja, kelompok arisan timur, mama vera, mama apip, teman-teman blunyah gede, dan keluarga RT... Rombongan pun harus mengambil jalan memutar untuk ke rumah. Kemudian ibupun diboyong ke bali, dengan tetep pake konde dan pakaian adat lengkap hikkk.... karena sesampai di Bali ibu dan ayah pun harus melalui prosesi sebelum masuk rumah.Makna usia ke 5 pernikahan ayah dan ibu adalah kedewasaan cinta. Kami rayakan dengan makan bersama keluarga... Kejadian yg ingin ibu share, yang mungkin bisa dijadikan perenungan buat ayah dan ibu adalah tentang BUNGA. Bunga adalah bahasa cinta yang biasa ayah berikan pada ibu di hari2 istimewa kami. Pada hari ini pun Ibu menanti kejutan itu, ternyata kejutannya adalah tidak ada bunga :). Teman di kantor ibu kebetulan bilang usia perkawinan yg kritis itu di usia 5-7 tahun. Apakah benar? Mudah2an tidak buat ayah dan ibu... ayah adalah sosok suami yang penuh cinta, malah ibu sering mengalami intoksikasi cinta hehehe... Cinta kami saat ini lebih kami ungkapkan untuk putri tercinta Lita :) Itulah mengapa ibu menyebutnya kedewasaan cinta.... Semoga cinta kami akan selalu memberi kehangatan dalam keluarga kecil kami....
Love
ibu
Tambahan dari Ayah:
Maaf ya Bu... kali ini tidak ada bunga. Tapi kan ayah sudah mengajak ibu makan malam yang menghabiskan dana 7 kali jaga ujian he he he he. Meskipun ada sedikit perubahan, percayalah itu tidak terjadi pada sikap hidup. I love you.
Friday, April 11, 2008
Medical check-up
Sebagai persyaratan visa, kami sekeluarga harus melakukan medical check up dan di Jogja hanya ada satu klinik yang ditunjuk sebagai panel dokter oleh Australian Ambassy. Dokter yang ditunjuk memang dokter senior di FK Kedokteran, yang kualitasnya sungguh tidak diragukan lagi. Namun ada sedikit yang kurang dari klinik tersebut adalah peralatannya yang tua. Alat foto Ro nya aja berusia hampir sama dengan ibu, 28 tahun. Namun radiografernya sih bilang hasilnya masih bagus kok... entahlah. Alat pengukur tinggi badan yg digunakan tidak standard, bayangkan pertama diukur tinggi Lita 115 cm, hahhh.... how come? setelah sedikit protes dan minta diukur pake alat lain akhirnya jadi 89 cm... hah lega... Yang lain adalah laborannya. Sebelum giliran kami, ada seorang bayi yg diambil darah dari lengannya... tidak berhasil dan tangisan kencang bayi. Laboran pun ambil darah melalui jari dg dipstick, namun sayang karena mencet jempol kelamaan darah mengalir kemana2 termasuk mengenai telapak tangan laboran. Ini bukti laboran tidak memegang prinsip safety. Saya pun menegur secara halus ketika sudah giliran kami diperiksa. Jawabannya asal aja, gak papa bu, kan bukan darah patogen... Hah? How come dia tahu itu bukan darah patogen? siapa tahu bayi itu penderita HIV/Hepatitis dan ada luka kecil pada laboran?... Sang Laboran pun mengeluarkan keringat bercucuran.
Anyway, utk lab kami hanya diperiksa urin. Waktu Lita dan ibu pipis bersama, ada pertanyaan Lita yg kritis... kok botol ibu lebih kecil dari Lita, kan ibu udah besar... Tersentak ibu, bener juga ya... ibu hanya perhatikan no 3 utk Lita dan no 4 utk ibu... hehehe
Semua tes berhasil dilalui dalam beberapa jam saja... akhirnya.
Anyway, utk lab kami hanya diperiksa urin. Waktu Lita dan ibu pipis bersama, ada pertanyaan Lita yg kritis... kok botol ibu lebih kecil dari Lita, kan ibu udah besar... Tersentak ibu, bener juga ya... ibu hanya perhatikan no 3 utk Lita dan no 4 utk ibu... hehehe
Semua tes berhasil dilalui dalam beberapa jam saja... akhirnya.
UHT
Menjelang keberangkatan kami ke Australia, ibu udah harus mulai mencoba melatih Lita utk minum UHT walaupun agak mahal dibanding susu formula hehehe.... Sebaiknya sih emang direkomendasikan pake UHT dari awal, tapi ibu malas beli ke supermarket sering2 karena cepet habisnya. Tapi sekarang mau gak mau harus UHT daripada nanti Lita gak minum sama sekali di Ausie karena gak ada sufor. Sebagai tahap awal, ibu mecampur UHT:Sufor=1:3... Btw udah sebulan ini Lita juga udah minum pake gelas,... bye bye botol :) Reaksi pertama Lita minum susu campuran buatan ibu.... enakkkkk.... apalagi minumnya bareng ama ayah... asikkkk
Setelah seminggu, nanti akan ditambah perbandingannya UHT:Sufor=1:2. Seminggu kemudian 3:1 dan akhirnya UHT semua... Untungnya Lita juga senang makan keju slice jadi kebutuhan kalsium dan susu sangat cukup untuk Lita. She is a good girl and we love you.
Setelah seminggu, nanti akan ditambah perbandingannya UHT:Sufor=1:2. Seminggu kemudian 3:1 dan akhirnya UHT semua... Untungnya Lita juga senang makan keju slice jadi kebutuhan kalsium dan susu sangat cukup untuk Lita. She is a good girl and we love you.
Monday, April 07, 2008
Lamaran
Tepat lima tahun yang lalu serombongan orang berpakaian adat Bali beriringan dalam 3 mobil kijang mengusik ketenangan warga kampung Kembang di Maguwoharjo. Tidak melewati jalan biasa, ketiga mobil kijang ini memutar lewat belakang di dekat rel kereta untuk kemudian berhenti di jalan utama tidak jauh dari rumahIbu Putu. Para tukang parkir bersiaga, penyambut tamu pun nampak siap. Hari ini, putri ragil Ibu Putu akan dipersunting calon suaminya, seorang pemuda desa sederhana dari Tabanan Bali.
Rombongan ini datang dengan segala persiapan, langsung dari Bali dengan belasan anggota. Jalan memutar yang ditempuh tadi adalah prasyarat dari keluarga untuk menghindarkan mempelai dari segala marabahaya dan kesialan hidup yang tidak diinginkan. Hari itu adalah 7 April 2003, mitos-mitos ternyata masih berkuasa atas kedua keluarga yang putra-putrinya bahkan sudah sarjana itu. Begitulah hidup yang penuh kompromi, menyenangkan juga ketika dijalani dengan ikhlas, setidaknya menggelikan untuk diceritakan 5 tahun sesudahnya :)
Mengingat keluarga yang sederhana, pihak mempelai pria memutuskan untuk meminta bantuan Bapak Pande Kutanegara, seorang antropolog dari UGM sebagai wakil keluarga. Sementara itu, mempelai wanita mempercayakan perwakilannya kepada Bapak Putu Panji Sudira, seorang akademisi dari UNY. Terjadilah dialog elegan itu dan mengantarkan dokter muda yang cantik dan dosen muda tampan (hi hi hi) semakin dekat dengan pelaminan. Ternyata peristiwa bersejarah itu sudah berlalu lima tahun lalu dan kini cinta mereka sudah berbuah. Lita, gadis kecil yang entah kelak akan jadi dokter atau dosen. Mungkin juga jadi petani seperti Pekak dan Niniknya di desa terpencil di Tabanan. Entahlah :) Selamat ulang tahun cinta.
Rombongan ini datang dengan segala persiapan, langsung dari Bali dengan belasan anggota. Jalan memutar yang ditempuh tadi adalah prasyarat dari keluarga untuk menghindarkan mempelai dari segala marabahaya dan kesialan hidup yang tidak diinginkan. Hari itu adalah 7 April 2003, mitos-mitos ternyata masih berkuasa atas kedua keluarga yang putra-putrinya bahkan sudah sarjana itu. Begitulah hidup yang penuh kompromi, menyenangkan juga ketika dijalani dengan ikhlas, setidaknya menggelikan untuk diceritakan 5 tahun sesudahnya :)
Mengingat keluarga yang sederhana, pihak mempelai pria memutuskan untuk meminta bantuan Bapak Pande Kutanegara, seorang antropolog dari UGM sebagai wakil keluarga. Sementara itu, mempelai wanita mempercayakan perwakilannya kepada Bapak Putu Panji Sudira, seorang akademisi dari UNY. Terjadilah dialog elegan itu dan mengantarkan dokter muda yang cantik dan dosen muda tampan (hi hi hi) semakin dekat dengan pelaminan. Ternyata peristiwa bersejarah itu sudah berlalu lima tahun lalu dan kini cinta mereka sudah berbuah. Lita, gadis kecil yang entah kelak akan jadi dokter atau dosen. Mungkin juga jadi petani seperti Pekak dan Niniknya di desa terpencil di Tabanan. Entahlah :) Selamat ulang tahun cinta.
Lita mengenal warna
Sejak sering menonton siaran babytv, Lita belajar lebih cepat. Setelah mengenal berbagai bentuk termasuk jenis binatang, alat transportasi, peralatan rumah tanggal dll., kini Lita mulai mengenal warna dengan baik. Selain mengenal warna secara individu, Lita bahkan sudah tahu pencampuran warna, walaupun masih tebatas pada beberapa warna saja.Kalau ditanya "Lita, kalau blue dicampur dengan yellow, jadinya apa?" Lita akan dengan sigap menjawab "gin" (maksudnya green). Tapi kalau ditanya biru dicampur kuning, jawabannya tetap gin, bukan hijau he he he. Lita juga tahu kalau red dicampur blue jadi purple dan red dicampur yellow jadi orange. Lucunya, Lita sering terbalik-balik ketika mengucapkan suatu kata. Orange (oren), misalnya sering berubah jadi eron, korek (kolek) tiba-tiba jadi kelok ha ha ah.
Lita juga sudah mengerti arti lampu lalu lintas. "Ayah masih red, artinya stop" katanya kalau kebetulan sedang berkendara di jalanan. Kalau ibu tanya "green artiny apa dik?" Lita akan menjawab "go". Semakin pintar saja Lita :)
Wednesday, April 02, 2008
Lita berbahasa Inggris
Sudah pernah kami ceritakan sebelumnya bahwa Lita sudah bersekolah di playgroup yang berbahasa Inggris. Meskipun kebanyakan gurunya berInggris logat Jawa, nampaknya ada kemajuan bagi Lita. Kalaupun ini bisa disebut kemajuan :) Sementara itu, kami tidak bersikeras mengajak Lita berbahasa Inggris di rumah karena kebetulan juga Ayah Ibunya nggak canggih-canggih amat bahasa Inggrisnya. Daripada nanti terjadi seperti lelucon di Sydney "What are you want?" lebih baik tidak usah saja :)Meski begitu, Lita tetap sekali-sekali berbahasa Inggris. Dia menyebut susu dengan milk, mengatakan tidak dengan no. Meminta mbahnya untuk sit down di sebelahnya dan sebagainya. Mbahnya adalah orang yang paling bangga kalau Lita berbahasa Inggris. Biasa ini lagu lama antara nenek dan cucu he he he. Selain bangga, tentu saja mbahnya juga yang paling sering bingung kalau Lita keluar "gaya"nya berbahasa Inggris. Suatu kali lita pernah menyebut frog dan mbahnya bingung tidak mengerti. Begitulah.
Kalau ayahnya lagi keluar isengnya, kadang Lita dilayani juga dengan Bahasa Inggris. Kalau ayahnya bilang "Get me some water please", Lita sudah bisa membawakan segelas air mineral. Lumayan juga. Meskipun tidak kemudian jadi bangga, rasanya menyenangkan juga Lita bisa berbagai bahasa. We love you, Lita.
Tuesday, March 18, 2008
Penyesalan ibu....
Hari ini,
ibu mengakui penyesalan yang sangat dalam atas apa yang ibu lakukan pada Lita. Pagi ini seperti biasa persiapan Lita sebelum sekolah adalah sarapan. Lita benar-benar menguji kesabaran ibu, dengan makan diemut lama dan akhirnya dilepeh... sejam sudah ibu bersabar, hanya 2 suapan yang berhasil masuk perut dan yang lain nihil. Pikiran ibu juga tegang karena waktu tak bisa menunggu, ibu harus berangkat kerja.... alhasil kemarahan ibu terlampiaskan pada Lita... walaupun bukan dengan kekerasan, tapi nada suara ibu sangat tinggi...sangat tinggi... Lita pun terkejut diam dan menangis... Sebelum berangkat ibu sempat minta maaf sama Lita, tapi masih ada sisa penyesalan di hati ibu. Ibu akan berusaha lebih bersabar...
Mudah-mudahan Lita mengerti ibu sayang sama Lita.... Maafkan ibu nak...
Love
Ibu
ibu mengakui penyesalan yang sangat dalam atas apa yang ibu lakukan pada Lita. Pagi ini seperti biasa persiapan Lita sebelum sekolah adalah sarapan. Lita benar-benar menguji kesabaran ibu, dengan makan diemut lama dan akhirnya dilepeh... sejam sudah ibu bersabar, hanya 2 suapan yang berhasil masuk perut dan yang lain nihil. Pikiran ibu juga tegang karena waktu tak bisa menunggu, ibu harus berangkat kerja.... alhasil kemarahan ibu terlampiaskan pada Lita... walaupun bukan dengan kekerasan, tapi nada suara ibu sangat tinggi...sangat tinggi... Lita pun terkejut diam dan menangis... Sebelum berangkat ibu sempat minta maaf sama Lita, tapi masih ada sisa penyesalan di hati ibu. Ibu akan berusaha lebih bersabar...
Mudah-mudahan Lita mengerti ibu sayang sama Lita.... Maafkan ibu nak...
Love
Ibu
Monday, March 17, 2008
Nanda dan Gita liburan di Jogja
Yang ditunggu-tunggu Lita akhirnya tiba, Kakak Nanda, Kakak Gita dan Mama liburan ke Jogja. Setelah tiga bulan berpisah, ketiga anak ini dipertemukan kembali. Lita, Nanda dan Gita tentu senang sekali. Nanda bahkan harus merelakan diri bolos dari sekolah untuk liburan ke Jogja. Tapi jangan khawatir, PR Kumon-nya tidak diabaikan. Setiap malam, Mama selalu setia menemani Nanda mengerjakan PR, bila perlu dengan ancaman-ancaman dan intimidasi kecil he he.Acara di Jogja banyak jalan-jalannya, dan tentu saja ada acara "cekok", memberi obat jamu kepada anak2 supaya nafsu makannya bertambah. Ini langganan keluarga turun temurun, kata mbah. Selain itu, sempat juga mengunjungi Sekatenan melihat atraksi lumba-lumba, berang-berang dan singa laut. Setelah liburan kira2 seminggu, Nanda dan Gita dijemput papa yang datang ke Jogja sambil liburan panjang. Ini dia foto2 liburan.
Si Kembar Lita dan Gita. Mana Lita mana Gita?
Ultraman dan Spiderwomen: Pahlawan anak-anak masa kini :)
"Men Brayut" Mandi Bola :)
Kakak Nanda terbang
Lita ikut-ikutan terbang. Rambutnya keren seperti punk :)
Bersepeda bertiga di dalam rumah. Bisa dibayangkan stessnya Mbah Putri setelah ini :)
Bosan bersepeda, cari kesibukan lain: Mendandani Mbah Kakung :)Thursday, March 13, 2008
Perkembangan Lita
Harus diakui, blog ini jarang sekali di-update. Meski begitu, bukan berarti kehidupan keluarga kami berhenti :) Lita tumbuh semakin besar, ayah tetap menjalankan keseharian jadi dosen di UGM sedangkan ibu bergabung kembali dengan PMPK UGM, menjadi peneliti.Blog ini jarang diutak atik karena masing-masing memang sedikit sibuk. Ayah dan Ibu, walaupun setiap hari di depan komputer, memiliki tugas masing-masing yang harus didahulukan. Meski jarang diceritakan, kehidupan kami baik-baik saja kok :)
Lita masih tetap sekolah seperti biasa. Kata Bu Gurunya, Lita sudah mengerti percakapan Bahasa Inggris walaupun belum bisa menimpali dengan lancar. Satu dua kata sudah dia ucapkan dalam Bahasa Inggris, yang saya pribadi sebenarnya tidak prefer. Makanya ketika Ibu Gurunya menyarankan untuk mengajaknya berbahasa Inggris di rumah, saya hanya tersenyum. Jika semua lancar, sebentar lagi Lita akan berbahasa Inggris jauh lebih baik dari ayahnya. Kesulitan keluarga nanti mungkin justru dalam menjaga Bahasa Indonesianya. Sedapat mungkin kami tidak ingin hal ini menjadi parah.
Mungkin memang sudah nature-nya kalau orang tua akan membanggakan anaknya. Lepas dari itu, Lita memang anak yang istimewa di mata orang tuanya. Ketika umur 2 tahun, Lita sudah bisa mengelaborasi apa yang dia maksud dengan peragaan visual. Pernah suatu hari, ketika akan main kuda-kudaan dengan saya, dia minta sesuatu sebelum naik ke punggung saya. "Kuci mana", begitu terdengar dia berteriak. Kami semua kebetulan tidak mengerti sehingga bertanya-tanya. "Kuci itu lo yang untuk gini-gini", Lita mengejelaskan dengan mengambil sikap pura-pura duduk menaik turunkan tubuhnya. Kami semua tertawa karena menyadari yang dimaksudnya adalah kursi. Kursi itu akan digunakannya untuk naik ke punggung ayahnya. Walah Lita Lita...
Lita juga hafal nama-nama banyak orang secara lengkap. Nama yang dihafalkannya tentu saja nama diri sendiri, ayah, ibu, Kakak Nanda, dan Kakak Gita. Yang menarik, Lita juga hafal nama kakungnya secara lengkap. Selain nama, Lita juga hafal beberapa lagu Bahasa Inggris seperti ABC, Bingo, Twinkle2 Little Star, Head shoulders and toes, dll. Lita juga bisa menghitung dari 1 sampai 10 dalam dua bahasa.
Suatu hari pernah saya diajari bagaimana cara masuk di lorong sempit. Saya akan masuk di sela-sela mobil dan pintu garasi yang memang sempit. Waktu saya berjalan lurus biasa, dia manarik saya dan mengajari cara berjalan yang 'benar'. "Gini lo jalannya Yang.. gini lo" katanya sambil memperlihatkan gerakan jalan dengan tubuh miring sehingga gerakan menjadi ke samping bukan ke depan. Dengan begini tentu saja gerakan menjadi lebih mudah karena jarak antara tubuh saya dan mobil serta pintu menjadi lebih lebar. Lita Lita.. ada ada saja idenya :)
Benar kata orang, di umur menjelang 3 tahun, seorang anak menyerap sangat cepat dan menyimpannya dalam memori yang bisa permanen. Ibu pernah menasihati Lita agar tidak mengatakan "he eh" kalau mengatakan "ya". Hasilnya, Lita selalu memprotes siapa saja yang mengatakan "he eh". "Kok he eh sih, YA, gitu dong", katanya. Itu semua membuat kami harus lebih hati-hati mengatakan sesuatu.
Selain baiknya, kenakalannya tentu saja banyak. Salah satu yang susah hilang adalah makan yang sulit. Makannya dimut tapi tidak ditelan. Lita mungkin sudah hafal dengan istilah "kunyah telan ya" saking seringnya diucapkan. Lucunya, kalau melihat saya makan sekali waktu Lita datang dan berteriak "kunyah telan ya" dan kami semua tertawa.
Begitulah Lita. Cerdas dan nakal, at the same time. Kalau saya menyebutnya 'creative' :) Setidaknya bagi orang tuanya, dia begitu istimewa.
Saturday, February 02, 2008
Gemar membaca
Gemar membaca ternyata sudah bisa ditanamkan ke Lita sejak masih kecil...

Usia 1 tahun Lita sudah hapal dengan cerita Big Zebra di soft-booknya, walaupun belum bisa cerita lancar tapi Lita sudah bisa menirukan sebagian kata-katanya.
Usia 2 tahun, ibu belikan serial cerita binatang, ada 3 buku dan yang paling dihapalnya cerita Burung Gagak dan seekor rubah. Saking hapalnya sekarang gak perlu bukunya lagisudah bisa cerita sendiri. Melihat sudah habis ketiga buku itu dirobek Lita karena saking bosannya, ibu belikan serial buku binatang lain, ada 3 buku juga dan yang paling dihapalnya cerita ulang tahun Garo.
Kembali ke Jogja, lita diajak ayah ke Gramedia utk membeli buku pilihannya sendiri. Pilihan ibupun bisa ditolaknya klo dia gak suka dan akhirnya dipilihnya cerita suara apa itu dan Franklin pergi ke sekolah. Minggu lalu dia sudah bisa minta ayah untuk dibelikan Franklin dan peri gigi...
Apa rahasianya Lita gemar membaca? Mungkin cara kita bercerita dengan gambar yang menarik perhatiannya atau sesuai dengan kondisinya memudahkan Lita menyerap cerita dengan cepat... We Love You honey...
Usia 1 tahun Lita sudah hapal dengan cerita Big Zebra di soft-booknya, walaupun belum bisa cerita lancar tapi Lita sudah bisa menirukan sebagian kata-katanya.
Usia 2 tahun, ibu belikan serial cerita binatang, ada 3 buku dan yang paling dihapalnya cerita Burung Gagak dan seekor rubah. Saking hapalnya sekarang gak perlu bukunya lagisudah bisa cerita sendiri. Melihat sudah habis ketiga buku itu dirobek Lita karena saking bosannya, ibu belikan serial buku binatang lain, ada 3 buku juga dan yang paling dihapalnya cerita ulang tahun Garo.
Kembali ke Jogja, lita diajak ayah ke Gramedia utk membeli buku pilihannya sendiri. Pilihan ibupun bisa ditolaknya klo dia gak suka dan akhirnya dipilihnya cerita suara apa itu dan Franklin pergi ke sekolah. Minggu lalu dia sudah bisa minta ayah untuk dibelikan Franklin dan peri gigi...
Apa rahasianya Lita gemar membaca? Mungkin cara kita bercerita dengan gambar yang menarik perhatiannya atau sesuai dengan kondisinya memudahkan Lita menyerap cerita dengan cepat... We Love You honey...
Gadis bali-ku
Menginjak usia 4 oton, lita semakin pintar bergaya ala "gadis bali". Beberapa foto yg sempat diabadikan ayah waktu di Bali.

Setelah upacara otonan, acara nglungsur banten dimeriahkan dengan aksi Lita yang ternyata sudah ada bakat "gresek" yg menurun dari ayahnya. Tempat daksina dipakainya untuk topi menari.... pakai handphone lagi...

Gadis bali satu ini cantik dengan kamboja di telinganya... walaupun sedikit gak cocok klo pakai tas gendong di belakangnya hehehe....

Foto gadis baliku dengan bunga yang lain, yang lebih besarrrrr, bunga sepatu... tetap cantik.
Setelah upacara otonan, acara nglungsur banten dimeriahkan dengan aksi Lita yang ternyata sudah ada bakat "gresek" yg menurun dari ayahnya. Tempat daksina dipakainya untuk topi menari.... pakai handphone lagi...
Gadis bali satu ini cantik dengan kamboja di telinganya... walaupun sedikit gak cocok klo pakai tas gendong di belakangnya hehehe....
Foto gadis baliku dengan bunga yang lain, yang lebih besarrrrr, bunga sepatu... tetap cantik.
Friday, January 25, 2008
Recipe:Lawar ayam
"Selamat hari raya Galungan nak... Di rumah sedang guling nih", ninik menelpon ibu waktu itu. Wah hari raya galungan, bikin apa ya biar special.. Bikin lawar? Bisa? hehe blum pernah sih bikin sendiri, dicoba yuk... Berikut resep LAwar yang ibu dapat dari internet. Thanks to internet...
Lawar ayam
Bahan dan cara:
1. Bawang merah (iris tipis dan digoreng)
2. Bawang putih (3 cloves)
Kencur (2 ukuran setengah jari)
Kunyit (setengah ibu jari)
merica (1 sdt)
kemiri (3 biji)
laos (ibu jari)
sedikit garam
Bumbu 2 diulek/blender halus, ditumis dengan dtambah salam
3. Cabe (iris dan goreng)
4. terasi dan garam (dicampur dan goreng)
5. kelapa dibakar dan diparut (alternatif lain: kelapa parut disangrai)
6. ayam (rebus dan potong kecil)
7. kacang panjang/buncis/nangka (direbus dan dipotong kecil2)
Bumbu 1,2,3,4 dicampur remes-remes, tambahkan 5,6,7, aduk rata.
Hasilnya lumayan lho.... cobain deh...
Lawar ayam
Bahan dan cara:
1. Bawang merah (iris tipis dan digoreng)
2. Bawang putih (3 cloves)
Kencur (2 ukuran setengah jari)
Kunyit (setengah ibu jari)
merica (1 sdt)
kemiri (3 biji)
laos (ibu jari)
sedikit garam
Bumbu 2 diulek/blender halus, ditumis dengan dtambah salam
3. Cabe (iris dan goreng)
4. terasi dan garam (dicampur dan goreng)
5. kelapa dibakar dan diparut (alternatif lain: kelapa parut disangrai)
6. ayam (rebus dan potong kecil)
7. kacang panjang/buncis/nangka (direbus dan dipotong kecil2)
Bumbu 1,2,3,4 dicampur remes-remes, tambahkan 5,6,7, aduk rata.
Hasilnya lumayan lho.... cobain deh...
Lita sekolah euy...
Sudah hampir 2 minggu ini Lita masuk day-care di Sunsmiles kindergarten. Setelah sebelumnya kami survey di 2 day care terkemuka di Jogja, kami akhirnya memutuskan Sunsmiles.Sunsmiles, baru berdiri 6 bulan yang lalu dengan basis bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Metode pendidikan yang diajarkan diadaptasi dari Singapura dan Malaysia. Informasi dari kepala sekolahnya, sunsmile sudah dinilai kelayakannya oleh ahlinya dari Singapura. Kepala sekolahnya sendiri punya certificate for education lulusan New York dan berpengalaman kerja di child care New York selama 7 tahun. Wow...
Hari pertama Lita masuk, masih trial. Ketika berpisah, menangis sebentar. Utk hari pertama Ibu menunggu di ruang tunggu. 2 Kali Lita menangis mencari ibu... Ini biasa terjadi... Setelah sekali drop in, kami akhirnya memutuskan Lita masuk daycare seminggu enam kali half day. Minggu pertama Lita masih nangis waktu diantar, walaupun selanjutnya sudah bisa main. Memasuki minggu kedua ini, dengan sukarela Lita shake hand dan bye bye sama ayah atau ibu waktu diantar.
Perkembangan Lita selama 2 minggu di day care cukup pesat:
1. bisa pakai lepas sepatu dan kaos kaki sendiri serta meletakkan di rak sepatu.
2. makan siang sendiri
3. bersahabat dengan kareens, abel, lala dan lintang
4. mengenal istilah2 inggris: shake hand, bye-bye, milk, miss, big hug, sit down, shoes off, kitchen set, orange, sand box, aeroplane, bag, ump, dll
5. mengenal nama-nama hari: sunday, monday, tuesday ..., berhitung 1-10: one, two, three,..
6. menyanyi lagu: BINGO, twinkle little star, head shoulder, happy birthday, dll
Lita tambah pinter euyyy...
Tuesday, January 22, 2008
Seandainya....

Seandainya saya bekerja di Google salah satu hal yang saya usulkan kepada Larry dan Serge adalah memasang logo Google bertema Galungan dan Kuningan seperti gambar di atas. Saya akan jelaskan pada Larry dan Serge bahwa Galungan dan Kuningan adalah juga hari yang istimewa seperti halnya Lebaran, Natal, dan Waisak bagi sahabat-sahabat saya.
Bukan untuk sekedar gaya-gaya-an, logo ini untuk mengingatkan siapa saja bahwa pada hari terntentu, ada beberapa gelintir umat manusia di muka bumi, walaupun tidak seheboh mereka yang merayakan Natal dan Lebaran, yang bersuka cita dan menundukkan kepala dalam-dalam menyembah kebesaran Tuhan dan memperingati kemengan dharma atas adharma. Logo ini saya tampilkan agar ada lebih banyak orang belajar tentang toleransi dan tentang keunikan orang lain. Atau setidaknya agar tidak terjadi lagi kelucuan seperti yang terjadi beberapa saat lalu di Jakarta ketika sopir taxi Blue Bird tidak tahu membedakan Pura atau Wihara. Jika toleransi menjadi penting, maka mengetahui tempat suci agama-agama dan hari besarnya mungkin adalah salah satu langkah yang bisa dimulai.
Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan bagi siapa saja yang merayakan.
Bukan untuk sekedar gaya-gaya-an, logo ini untuk mengingatkan siapa saja bahwa pada hari terntentu, ada beberapa gelintir umat manusia di muka bumi, walaupun tidak seheboh mereka yang merayakan Natal dan Lebaran, yang bersuka cita dan menundukkan kepala dalam-dalam menyembah kebesaran Tuhan dan memperingati kemengan dharma atas adharma. Logo ini saya tampilkan agar ada lebih banyak orang belajar tentang toleransi dan tentang keunikan orang lain. Atau setidaknya agar tidak terjadi lagi kelucuan seperti yang terjadi beberapa saat lalu di Jakarta ketika sopir taxi Blue Bird tidak tahu membedakan Pura atau Wihara. Jika toleransi menjadi penting, maka mengetahui tempat suci agama-agama dan hari besarnya mungkin adalah salah satu langkah yang bisa dimulai.
Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan bagi siapa saja yang merayakan.
Monday, December 31, 2007
Lita Otonan
Di malam tahun baru, Lita berusia tepat 210 x 4 hari atau 4 oton. Dalam tradisi Hindu, otonan merupakan peringatan hari lahir (birthday) dengan dasar perhitungan tertentu yang tidak sama dengan kalender masehi. Otonan kali ini bertepatan dengan malam tahun baru sehingga memperingatinya sekalian.
Seperti halnya otonan pertama, kali ini peringatannya di rumah di Bali. Artinya suasananya juga berbeda. Lebih ramai dan lebih meriah. Dalam acara ini sekaligus juga dilakukan syukuran dengan mengundang semua orang di banjar (tempek), tidak kurang dari 60 keluarga. Banyak bener ya :)
Ayah dan Ibu mengunjungi semua rumah untuk mengundah mereka agar datang malam itu. Pengalaman ini sangat berkesan karena untuk pertama kalinya Ibu mengunjungi semua rumah tanpa kecuali dan berinteraksi langsung dengan semua orang. Ini menjadi catatan tersendiri bagi keluarga kecil kami. Bagi masyarakat desa, ini menjadi pertanda keinginan kami untuk berinteraksi dan tetap menjadi hubungan baik dengan semua orang di kampung. Semoga.
Sunday, December 30, 2007
Berkumpul di Bali
Tanggal 30 Desember 2007 tengah malam, Lita, Ibu dan Mbah tiba di Bali. Lita dan Ibu terbang dari Jakarta dan Mbah dari Jogja. Walaupun menggunakan pesawat yang berbeda, ketiganya mendarat pada waktu nyaris bersamaan sehingga memudahkan yang menjemput.Lita berjalan kaki dituntun Ibu dan Kadek, mununjukkan sepatunya yang berkelap kelip ada lampunya. Lita menggunakan jaket pink dengan hood yang menutup kepalanya.
Ketika melihat ayah, lita langsung mau digendong tanpa canggung sedikitpun. Ini menyenangkan mengingat Lita sudah tidak melihat ayah selama lebih dari 3 bulan. Komunikasi selama inipun hanya voice saja karena webcam ayah tertinggal di Australia. Lita tidak lupa sama sekali dengan ayahnya, sangat mengharukan.
Perjalanan malam itu dilanjutkan ke rumah Tabanan dan sampai di rumah setengah 2 pagi. Selanjutnya Lita masih kuat begadang sampai jam 3 pagi ketika ayah ibunya sudah teler kehabisan energi. Hari ini semua berkumpul di Bali. Ada Mbah Putri, Mbah Kakung, Ibu, Lita, Ayah, Pekak dan Ninik (Ninik1 dan Ninik2 :) Semua gembira menyambut kedatangan Lita dan siap-siap untuk 'pesta kecil' esok harinya karena Lita akan otonan.
Tuesday, December 25, 2007
Ayah Kembali ke Tanah Air
Bertepatan dengan hari Natal, ayah pulang ke tanah air. Di bandara dijemput Ninik dan Pekak yang sudah menunggu hampir 2 jam karena pesawat ayah terlambat.Perjalanan dari JFK New York ditempuh melalui Vancouver Canada dan kemudian mampir di Hongkong selama beberapa jam. Sayang sekali di kedua tempat ini hanya transit di bandara sehingga ayah tidak bisa jalan-jalan melihat suasana kota.
Perjalanan total ditempuh selama 30 jam termasuk transit. Sebuah perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan. Meski demikian, perjalanan terasa sangat menarik karena akan bertemu ibu dan Lita di Indonesia, walaupun Ibu dan Lita akan tiba di Bali tanggal 30 Desember 2007. Lita sendiri akan otonan tanggal 31, tepat di malam tahun baru.
Suasana desa tidak banyak berubah. Rumah Pekak yang tetap asri dan kebun yang tertata rapi menyambut ayah dengan ceria. Makanan khas Bali dan keramahan semua orang kampung menjadi pengobat rindu yang sangat menyejukkan. Ayah menunggu Lita dan Ibu di Bali.
Saturday, December 22, 2007
Selamat Hari Ibu, istriku.
Ketika umur bertambah dewasa, sering kali kemalasan menghinggapi kita untuk menyatakan cinta. Saat seorang teman beranjak jadi kekasih dan kemudian menjadi istri dan akhirnya menjadi ibu dari anakku, seorang aku bisa saja bermetamorfosis dalam hal kepekaan akan cinta. Saat inilah hidup berubah pelan dan seperti tidak disadari. Kehangatan bisa memudar. Saat inilah penyelamatan diperlukan dan kesadaran menjadi satu-satunya pembuka pintu kesempurnaan hidup.Perubahan dari suasana manja bergelimang cinta menuju kebersahajaan dan kedewasaan yang bijaksana seringkali menjadi alasan untuk tidak memikirkan lagi hal-hal yang mengharu biru. Begitulah seorang aku bisa lupa akan apa yang pernah menggelorakan semangat di masa muda. Jika dulu ada kegelisahan lelaki yang senantiasa membakar semangat cinta, kini kesibukan dan kebesaran nama seringkali membuat semuanya sedikit berbeda.
Aku mengerti. Aku tidak menyesali ini. Kedewasaan memang menjadikan kita lebih tenang, tidak meledak-ledak sekaligus lebih bijaksana, pun dalam menyatakan cinta. TETAPI, tidak pernah ada alasan untuk mengurangi cinta. Ini yang aku jaminkan kepadamu. Benar memang waktu membawa angin perubahan tetapi semuanya hanya hiasan. Seperti musim berganti dengan wajah dan kesegaran baru, begitu juga kedewasaan kita menghadirkan perilaku yang berbeda. Memang tidak lagi kita jalani hari-hari seperti halnya 10 tahun yang lalu ketika pandangan mata menimbulkan birahi, kini pandangan mata adalah kebijaksanaan yang bertanggung jawab. Puncak kenikmatan kita adalah keheningan. Begitulah kita melakukan lompatan dalam hidup.
Istriku, hari ini adalah Hari Ibu. Umat manusia merayakannya dengan cara masing-masing. Bagiku sesungguhnya ini tidak istimewa karena keibuanmu tidak pernah berkurang di hari biasa. Terima kasih yang tidak berhenti ini semestinya menjadi obor bagimu yang terasa bernasnya saat gelap menjelang. Momen ini hanyalah pertanda. Kuresmikan terima kasihku dengan ucapan dan kupastikan cintaku dengan ujaran yang barangkali sesungguhnya tidak perlu. Agar umat manusia mengetahui niatku dan menjadikannya pelajaran untuk generasi mendatang, harus kunyatakan dengan bahasa sederhana bahwa aku mencintaimu. Selamat Hari Ibu.
Subscribe to:
Posts (Atom)